BUNGA RAMPAI PANTUN

01.46 Posted In Edit This 0 Comments »

Bunga Rampai Pantun

SRI WINARNI, S.Pd.



BUNGA RAMPAI
PANTUN



Penerbit
TB Pustaka Ilmu Trawas


BUNGA RAMPAI PANTUN
Oleh: Sri Winarni, S.Pd.
Copyright © 20 by Sri Winarni, S.Pd.

Penerbit
TB Pustaka Ilmu, Trawas
Website : -
wienskayun@yahoo.com

Desain Sampul:
Wiens Kayun




Diterbitkan melalui:
www.nulisbuku.com





Motto :
Bahagia itu semu
Hanya kita yang tahu
Itupun secara sadar dan waras
Jadi kita jalani saja
Dengan satu pedoman
Yakni Agama
Itulah jalan hidup
Ada bahagia, sedih dan semuanya
Langkah, rejeki, pertemuan, dan maut
Allah SWT yang mengatur







Kata Pengantar


Pantun merupakan khasanah bahasa Indonesia. Makna yang terkandung dalam pantun mudah dicerna, diingat-ingat dan menjadikan “pedoman” bagi kita.
Dengan pendekatan komunikatif, keberadaan pantun semakin melekat dengan pembelajaran bahasa Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat umum juga menyukai dan menggunakan pantun.
Penyusun buku ”Bunga Rampai Pantun” ini bertujuan untuk ikut melestarikan pantun yang sudah berkembang di masyarakat Indonesia sebagai wujud apresiasi sastra Indonesia. Selain itu buku ini sekaligus dapat digunakan sebagai sumber pembelajaran Bahasa Indonesia.
Tiada gading yang tak retak. Atas segala kekurangan buku ini, penyusun mohon koreksi, saran, dan kritik dari segenap pengguna. Mudah-mudahan buku ini benar-benar member kontribusi positif dalam dunia sastra dan pendidikan.



Mojokerto, April 2011
Penyusun



DAFTAR ISI

Halaman
Halaman Judul
Halaman Motto
Identitas Buku
Kata Pengantar
Daftar isi

Pantun
A.Pengertian Pantun
B.Syarat-Syarat Pantun
C.Peran Pantun
D.Jenis Pantun Berdasarkan Isinya
E.Jenis Pantun Berdasarkan Bentuknya
F.Cara Menyusun Pantun
G.Cara Menyelesaikan Pantun

Kamus Pantun
Contoh Pantun
Daftar Pustaka






PANTUN



A.Pengertian Pantun
Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara.

Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan dan dalam bahasa Sunda dikenal sebagai paparikan.

B.Syarat-Syarat pantun :
1.Terdiri atas empat larik/baris
2.Tiap baris terdiri dari 8 sampai 12 suku kata, tapi yang lazim
3.Baris pertama dan kedua merupakan sampiran
4.Baris ketiga dan keempat merupakan isi
5.Bersajak akhir dengan pola a-b-a-b

Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian yaitu : sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.

C.Peran Pantun
Sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berfikir. Pantun melatih seseorang untuk berfikir tentang makna kata sebelum berujar. Ia juga melatih orang berfikir asosiatif, bahwa suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata yang lain.

Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat, bahkan hingga sekarang. Di kalangan pemuda sekarang, kemampuan berpantun biasanya dihargai. Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berfikir dan bermain-main dengan kata. Seringkali bercampur dengan bahasa-bahasa lain. Namun demikian, secara umum peran sosial pantun adalah sebagai alat penguat penyampaian pesan.

D.Jenis Pantun Berdasarkan Isinya
1.Pantun Anak-anak
a.Pantun bersuka cita
Pantun bersuka cita adalah pantun yang isinya mengungkapkan perasaan gembira/bahagia

Contoh :
Burung merpati burung dara (baris 1)
Terbang menuju angkasa luas (baris 2)
Hati siapa takkan gembira (baris 3)
Karena aku telah naik kelas (baris 4)

Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

b.Pantun berduka cita
Pantun berduka cita adalah pantun yang berisi ungkapan kesedihan hati atau berduka

Contoh :
Memetik manggis di kota Kedu (baris 1)
Membeli tebu uangnya hilang (baris 2)
Menangis adik tersedu-sedu (baris 3)
Mencari ibu belum juga pulang (baris 4)

Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

2.Pantun Muda
a.Pantun nasib (pantun dagang)
Pantun nasib (pantun dagang) adalah pantun yang merupakan penggambaran keadaan seseorang.

Contoh :
Pergi sekolah mampir Cimahi (baris 1)
Depan bukit lihat ilalang (baris 2)
Mungkin sudah takdir Illahi (baris 3)
Badan sakit tinggal tulang (baris 4)

Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

b.Pantun perkenalan
Pantun perkenalan adalah pantun yang berisi ungkapan untuk mengenal seseorang dan ucapannya berupa pantun.

Contoh :
Dari mana hendak kemana (baris 1)
Manggis dipetik dengan pisau (baris 2)
Kalau boleh kami bertanya (baris 3)
Gadis cantik siapa namamu (baris 4)

Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

c.Pantun berkasih-kasihan
Pantun berkasih-kasihan adalah pantun yang berisi ungkapan yang ditujukan pada orang yang dicintainya.

Contoh :
Jalan lurus menuju Tuban (baris 1)
Terus pergi mengangkat peti (baris 2)
Badan kurus bukan tak makan (baris 3)
Kurus memikir si jantung hati (baris 4)

Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

d.Pantun perpisahan
Pantun perpisahan adalah pantun yang berisi ungkapan perpisahan.

Contoh :
Jaga tugu di tengah jalan (baris 1)
Menjala ikan mendapat kerang (baris 2)
Tega nian aku kau tinggalkan (baris 3)
Hidup di dunia hanya seorang (baris 4)

Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

e.Pantun jenaka
Pantun jenaka adalah pantun yang berisi tentang hal-hal yang lucu dan mustahil terjadi.

Contoh :
Kita bersama pergi ke Bali (baris 1)
Jalan ke kota membeli mangga (baris 2)
Hati siapa takkan geli (baris 3)
Melihat babi berpita tiga (baris 4)

Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

f.Pantun teka-teki
Pantun teka-teki adalah pantun yang membutuhkan jawaban.

Contoh :
Menuruni jurang yang landai (baris 1)
Berjalan di atas rumput teki (baris 2)
Kalau anda memanglah pandai (baris 3)
Hewan apa tanduk di kaki (baris 4)

Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

3.Pantun Tua
a.Pantun adat
Pantun adat adalah pantun yang berisi peringatan tentang kebiasaan di daerah tertentu.

Contoh :
Tolong menolong umpama jari (baris 1)
Setiap hari bantu-membantu (baris 2)
Bekerja selalu berlima diri (baris 3)
Itulah misal Tuhan memberimu (baris 4)

Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

b.Pantun agama
Pantun agama adalah pantun yang berisi ungkapan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan agama.

Contoh :
Makan coklat di lampu redup (baris 1)
Kebun bakau dahannya mati (baris 2)
Sholatlah engkau selama hidup (baris 3)
Sebelum kau sendiri disholati (baris 4)

Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

c.Pantun nasihat
Pantun adalah pantun yang berisi ungkapan untuk mengenal seseorang dan ucapannya berupa pantun.

Contoh :
Buah kelapa buah lontar (baris 1)
Dibeli ayah dari pekan (baris 2)
Rajin-rajinlah kau belajar (baris 3)
Untuk bekal masa depan (baris 4)

Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

E.Jenis Pantun Berdasarkan Bentuknya
1.Pantun biasa
Ciri-cirinya :
a.Terdiri dari 4 baris
b.Tiap baris terdiri dari 8 sampai 12 suku kata
c.Baris pertama dan kedua disebut sampiran, baris ketiga dan keempat disebut isi
d.Berpola/bersajak a b a b

Contoh :
Bunga melati warnanya putih (baris 1)
Di hutan disukai monyet (baris 2)
Hidup ini janganlah bersedih (baris 3)
Mainkan musik kita berjoget (baris 4)

Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

2.Karmina/pantun kilat
Karmina atau dikenal dengan nama pantun kilat adalah pantun yang terdiri dari dua baris. Baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua adalah isi. Memiliki pola sajak lurus (aa). Biasanya digunakan untuk menyampaikan sindiran atau pun ungkapan secara langsung.

Contoh :
Di kolong meja ada hewan (baris 1)
Orang sombong sedikit kawan (baris 2)


Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)

3.Talibun
Talibun adalah sejenis puisi lama / pantun karena mempunyai sampiran dan isi, tetapi lebih dari 4 baris (mulai dari 6 baris hingga 20 baris). Berirama abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde, dstnya.

Ciri-ciri Talibun :
a.Ia merupakan sejenis puisi bebas
b.Terdapat beberapa baris dalam rangkap untuk menjelaskan pemerian
c.Isinya berdasarkan sesuatu perkara diceritakan secara terperinci
d.Tiada pembayang. Setiap rangkap dapat menjelaskan satu keseluruhan cerita
e.Gaya bahasa yang luas dan lumrah (member penekanan kepada bahasa yang berirama seperti pengulangan dll)
f.Berfungsi untuk menjelaskan sesuatu perkara
g.Merupakan bahan penting dalam pengkaryaan cerita penglipur lara.

Contoh :

Tengah malam sudah terlampau
Dini hari belum lagi Nampak
Budak-budak dua kali jaga
Orang muda pulang bertandang
Orang tua berkalih tidur

Embun jantan rintik-rintik
Bnerbunyi kuang jauh ke tengah
Sering lanting riang di rimba
Melenguh lembu di padang
Sambut menguak kerbau di kandang

Berkokok mendung Merak mengigal
Fajar sidik menyinsing naik
Kicak-kicak bunyi Murai
Taktibau melambung tinggi
Berkuku balam dihujung bendul

Terdengar puyuh panjang bunyi
Puntung sejengkal tinggal sejari
Itulah alamat hari nak siang

(Hikayat Malim Demam)


4.Gurindam
Gurindam adalah satu bentuk puisi/pantun Melayu lama yang terdiri dari dua bait, tiap bait terdiri dari 2 baris kalimat dengan irama akhir yang sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian dan baris kedua berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi.

Contoh :
Gurindam yang terkenal yaitu Gurindam 12 karya Raja Ali Haji

Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

Barang siapa mengenal yang empat,
Maka ia itulah orang yang ma’rifat

Barang siapa mengenal Allah,
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

Barang siapa mengenal diri,
Maka telah mengenal akan Tuhan Yang Bahari

Barang siapa mengenal dunia,
Tahulah ia barang yang teperdaya

Barang siapa mengenal akhirat,
Tahulah ia dunia mudarat

F.Cara menyusun Pantun

Langkah-langkah menyusun pantun yaitu :
Pertama : menentukan jenis pantun yang akan kita
Kedua : kita harus mempunyai banyak perbendaharaan kata, sehingga apabila kita akan membuat huruf agar sesuai (berima) mudah mencarinya.

Contoh :
Kita akan membuat pantu nasihat
Isi nasihat kita tulis dahulu :

Asal kita rajin serta tekun (baris 3)
Tentulah kita kan berprestasi (baris 4)

Kini kita buat kalimat untuk baris pertama dengan huruf akhir harus kun, untuk kalimat baris keempat suku akhir harus si.

Kita cari kata yang suku kata akhir berbunyi kun, kemudian kita tentukan yang pantas kita gunakan : dukun, sukun, kalkun, atau boleh juga menggunakan kata yang suku kata akhirnya bervokal un, misalnya : dusun, susun, atau midun.

Sekarang kita coba membuat kalimatnya sebagai baris pertama, yang akan kita pasangkan dengan kalimat baris ketiga.

Pergi ke pasar membeli sukun (baris 1)
Asal kita rajin serta tekun (baris 3)

Kalau sudah Nampak serasi, kita buat baris dengan suku kata akhir si atau kata yang bervokal akhir i : busi, saksi, basi, susi, nasi, taksi, dll. Kata ini akan kita pasangkan dengan baris keempat dengan vocal (suku kata) akhir si.

Tidak lupa membawa nasi (baris 2)
Tentulah kita kan berprestasi (baris 4)
Setelah kita mendapatkan empat kalimat, cobalah disusun sambil kita rasakan keserasiannya.

Pergi ke pasar membeli sukun (baris 1)
Tidak lupa membawa nasi (baris 2)
Asal kita rajin dan tekun (baris 3)
Tentulah kita kan berprestasi (baris 4)

Keterangan :

(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

Kita coba menyusun bait lagi pantun teka-teki. Kita tuliskan dulu isi pantun yang kita kehendaki.

Kalau kau memang anak pintar (baris 3)
Hewan apa hidung berbelalai (baris 4)

Kita buat kalimat baris pertama dengan vocal akhir ar atau tar. Kata-kata yang akan kita pilih : lontar, gentar, sasar, kekar, mekar, lahar, kabar, dll
Buah kelapa buah lontar (baris 1)
Kalau kamu anak yang pintar (baris 3)

Untuk baris kedua, kita cari kata yang bervokal atau mempunyai suku kata akhir lai. Misalnya : kedai, santai, petai, gulai, dan lain-lain.


Menangkap burung dimasak gulai (baris 2)
Hewan apa hidung berbelalai (baris 4)

Setelah ada 4 kalimat atau 4 baris, kita susun sambil kiya hayati :

Buah kelapa buah lontar (baris 1)
Menangkap burung dimasak gulai (baris 2)
Kalau kamu anak pintar (baris 3)
Hewan apa hidung berbelalai (baris 4)

Keterangan :

(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

Jadilah pantun teka-teki dengan tebakan isinya adalah gajah.

Jika kita teliti dan memiliki perbendaharaan kata yang cukup banyak, maka akan sangat mudah bagi kita untuk menyusun sebuah pantun.


G.Cara Menyelesaikan Pantun
Kita sering menjumpai ada beberapa soal yang mengharuskan kita untuk menyelesaikan / menyempurnakan sebuah pantun. Berikut adalah trik untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Sebagai contoh :
………………………… (baris 1)
………………………… (baris 2)
Sekali lancung keujian (baris 3)
Seumur hidup orang tak kan percaya
(baris 4)


Langkah-langkahnya sebagai berikut :

Pertama kita harus berusaha membuat kalimat yang suku kata akhir harus an, atau bervokal akhir an, misalnya : pertanian, ujian, durian, kajian, bagian, tiduran, Koran, kawan, sopan, dan lain-lain. Kalimat ini berkedudukan sebagai baris 1

Misalnya :

a.Membeli burung dan durian
b.Pergi mendayung ke tepian
c.Dari Bandung bawa koran
d.Langit mendung akan hujan

Selanjutnya menentukan baris kedua, harus bersuku kata akhir atau bervokal ya, supaya sama dengan percaya, misalnya : papaya, Surabaya, kaya, raya, majalaya, jaya, dan lain-lain.

Misalnya :

a.Mencari kerang ke Surabaya
b.Sayur kerang dengan papaya
c.Pergi ke timur ke sarang buaya
d.Bersepada motor di jalan raya

Sekarang kita tentukan :

Dari Bandung bawa koran
Pergi ke timur sarang buaya
Sekali lancung keujian
Seumur hidup orang tak percaya

Keterangan :

Baris 1 – rima a
Baris 2 – rima b
Baris 3 – rima a
Baris 4 – rima b

Contoh lain :

Bapa ke kebun parang dibawa (baris 1)
Kawat dibungkus kain dan pita (baris 2)
……………………….. (baris 3)
……………………….. (baris 4)

Perlu diingat! Baris 3 dan 4 yang harus kita tulis adalah isi pantun, bukan sampiran, jadi harus kalimat yang bermakna.

Kita cari baris pertama dengan vocal akhir wa, misalnya : kurawa, ambarawa, tawa, tertawa, dan lain-lain.

Baris kedua kalimat dengan vocal akhir atau suku kata akhir, ta, misalnya : Jakarta, kacamata, mata, buta, kita, dan lain-lain.

Contoh pilihan :

Semua orang tentu kan tertawa
Melihat tikus berkaca mata

Jadi susunan lengkapnya :

Bapa ke kebun parang dibawa (baris 1)
Kawat dibungkus kain dan pita (baris 2)
Semua orang tentu kan tertawa (baris 3)
Melihat tikus berkaca mata (baris 4)


KAMUS PANTUN


Kata yang berakhir dengan vocal a :

Aba
Ada
Adikuasa
Adimarga
Adinda
Adipura
Adiraja
Agenda
Agraria
Aksara
Aktiva
Ala
Baca
Bahasa
Baja
Balada
Bangka
Bangsa
Beda
Bendahara
Berhala
Beta
Betina
Biasa
Bila
Bina
Bola
Budaya
Busa
Busana
Buta
Cakrawala
Canda
Cara
Cela
Celaka
Celana
Cemara
Cempaka
Cerca
Cerna
Cendana
Cipta
Coba
Cuaca
Dada
Dahlia
Damba
Dana
Darma
Dasa
Dasawarsa
Data
Delima
Delta
Denda
Dera
Derma
Dermaga
Desa
Dewa
Dia
Dinda
Diploma
Diraja
Dogma
Domba
Dosa
Duda
Duga
Duka
Dunia
Dupa
Dursila
Durhaka
Dwiwarna
Etika
Fakta
Fana
Fatwa
Fauna
Fenomena
Firma
Flora
Fobia
Fusta
Gada
Gaga
Gala-gala
Ganda
Gandarwa
Garuda
Gatra
Gema
Gembira
Genta
Gerhana
Gorilla
Gula
Gulana
Guna
Hamba
Hampa
Hanya
Hara
Harpa
Harta
Hasta
Hatta
Hina
Hingga
Huma
Ia
Ibunda
Idola
Iga
Ikebana
Indra
Influenza
Informatika
Insektisida
Intelegensia
Irama
Istana
Jaga
Jaka
Janda
Jangka
Jasa
Jera
Jua
Jumpa
Kaca
Kacamata
Kafetaria
Kanda
Kamboja
Kamera
Kanta
Karisma
Karma
Karsa
Kartika
Karya
Kasa
Kecewa
Kejora
Kelola
Keluarga
Kentara
Kerangka
Ketua
Khatulistiwa
Koma
Kontra
Kopra
Kota
Kotapraja
Kuasa
Kurma
Kusta
Laba
Lada
Laga
Laksa
Laksana
Laktosa
Lama
Lara
Lava
Lega
Legenda
Lembaga
Lensa
Lepra
Liga
Lima
Limpa
Loba
Luka
Lupa
Lusa
Magenta
Maha
Mahadewa
Mahardika
Maheswara
Maizena
Malaria
Mangsa
Mantera
Margasatwa
Mayapada
Mekanika
Murka
Nama
Nayaka
Negara
Neraca
Nestapa
Nira
Nyawa
Oksida
Olahraga
Omega
Pagoda
Paksa
Pala
Panca
Pancaindra
Pancasila
Panitia
Pariwara
Pariwisata
Peka
Pelana
Penjara
Perkara
Piala
Pidana
Raba
Raga
Raja
Rama-rama
Sahaja
Saja
Saka
Sama
Sandera
Sangkala
Sauna
Savana
Tamasya
Utara
Vagina
Vulva
Wacana
Zona

Kata yang berakhir dengan vocal i :

Abadi
Abdi
Adi
Admisi
Aji
Alami
Arloji
Arteri
Bahari
Baiduri
Baki
Banci
Bayi
Belati
Bendi
Besi
Bumi
Caci
Dahi
Dai
Dasi
Deli
Demokrasi
Dengki
Ebi
Gaji
Gali
Geli
Hari
Huni
Ilustrasi
Ilusi
Imaji
Inovasi
Jeli
Janji
Jari
Judi
Kopi
Kursi
Laci
Lari
Negeri
Ragi

Kata yang berakhir dengan vocal u :

Aku
Babu
Bangku
Bayu
Biru
Buku
Bulu
Cemburu
Cepu
Cumbu
Dadu
Dungu
Jemu
Kelabu
Keliru
Labu
Laju
Laku
Lucu
Madu
Melulu
Paku
Palu
Perlu
Ramu

Kata yang berakhir dengan vocal e :

Babe
Cabe
Jahe
Kate
Matre
Monte
Rante
Sate
Tante
Tape
Tempe

Kata yang berakhir dengan vocal o :

Bakso
Baliho
Bego
Beo
Melo

Kata yang berakhir dengan vocal ao :

Bakpao

Kata yang berakhir dengan vocal au :

Cincau
Kacau
Kerbau
Pulau

Kata yang berakhir dengan vocal ai :

Andai
Badai
Balai
Belalai
Gulai
Jablai
Lantai
Pandai
Pantai
Petai
Santai
Tangkai
Teratai

Kata yang berakhir dengan vocal oi :

Amboi
Koboi
Sepoi

Kata yang berakhir dengan suku kata ba :

Iba
Domba
Hamba
Laba
Loba
Tiba
Raba
Rimba

Kata yang berakhir dengan suku kata ca :

Baca
Cerca
Cuaca
Kaca
Merica
Neraca
Panca
Rica-rica

Kata yang berakhir dengan suku kata da :

Ada
Adinda
Agenda
Balada
Beda
Canda
Dada
Denda
Dinda
Duda
Gada
Ganda
Garuda
Ibunda
Janda
Kanda
Lada
Pagoda


Kata yang berakhir dengan suku kata ga :

Adimarga
Bangga
Dermaga
Duga
Gaga
Hingga
Iga
Jaga
Jingga
Juga
Keluarga
Laga
Lega
Lembaga
Mangga
Olahraga
Omega
Raga
Surga
Telaga
Tiga

Kata yang berakhir dengan suku kata ha :

Maha

Kata yang berakhir dengan suku kata ja :

Adiraja
Baja
Diraja
Kamboja
Kotapraja
Raja
Sahaja
Saja

Kata yang berakhir dengan suku kata ka :

Bangka
Celaka
Cempaka
Duka
Durhaka
Etika
Jaka
Jangka
Kartika
Kerangka
Luka
Malaka
Mekanika
Murka
Nangka
Nayaka
Peka
Saka
Suka
Terka

Kata yang berakhir dengan suku kata la :

Berhala
Bila
Bola
Cakrawala
Cela
Gala-gala
Gorila
Gula
Pala
Pancasila
Piala
Sangkala

Kata yang berakhir dengan suku kata ma :

Delima
Derma
Diploma
Dogma
Firma
Gema
Huma
Irama
Karisma
Karma
Lima
Koma
Kurma
Nama
Rama-rama

Kata yang berakhir dengan suku kata na :

Betina
Bina
Busana
Buta
Cerna
Cendana
Dana
Dwiwarna
Fana
Fauna
Fenomena
Gerhana
Gulana
Guna
Hina
Ikebana
Istana
Maizena
Pelana
Pidana
Sauna
Savana
Vagina
Wacana
Zona

Kata yang berakhir dengan suku kata pa :

Hampa
Harpa
Jumpa
Limpa
Lupa
Nestapa
Rupa

Kata yang berakhir dengan suku kata ra :

Adipura
Aksara
Bara
Bendahara
Bendera
Cemara
Flora
Gapura
Gembira
Jera
Kamera
Kejora
Kentara
Kura-kura
Lara
Menara
Penjara
Perkara
Pura-pura
Sandera
Saudara

Kata yang berakhir dengan suku kata sa :

Adikuasa
Bahasa
Bangsa
Biasa
Bisa
Busa
Dasa
Dasawarsa
Desa
Jasa
Karsa
Kasa
Kuasa
Laksa
Laktosa
Lensa
Lusa
Mangsa
Paksa

Kata yang berakhir dengan suku kata ta :

Bata
Cipta
Fakta
Fusta
Genta
Harta
Hasta
Hatta
Kacamata
Kanta
Kota
Kusta
Magenta
Pariwisata

Kata yang berakhir dengan suku kata va :

Aktiva
Lava
Larva
Sativa
Viva
Vulva

Kata yang berakhir dengan suku kata wa :

Dewa
Fatwa
Gandarwa
Kecewa
Mahadewa
Margasatwa
Nyawa
Tawa
Tertawa

Kata yang berakhir dengan suku kata ya :

Buaya
Budaya
Cahaya
Daya
Hanya
Karya
Maya
Sahaya
Saya
Tamasya
Upaya

Kata yang berakhir dengan suku kata bi :

Babi
Ebi
Lobi
Hobi
Nabi
Serabi

Kata yang berakhir dengan suku kata ci :

Aci
Banci
Benci
Caci
Guci
Kurcaci
Kuwaci
Laci
Moci
Poci
Sekoci
Suci

Kata yang berakhir dengan suku kata di :

Abadi
Abdi
Adi
Bendi
Budi
Judi
Kemudi
Kendi
Mandi

Kata yang berakhir dengan suku kata fi :

Kata yang berakhir dengan suku kata gi :

Bagi
Lagi
Pagi
Ragi
Segi
Tinggi

Kata yang berakhir dengan suku kata hi :

Dahi

Kata yang berakhir dengan suku kata ji :

Aji
Arloji
Gaji
Gergaji
Imaji
Janji
Kanji

Kata yang berakhir dengan suku kata ki :

Aki
Baki
Daki
Dengki
Kaki
Maki
Teki

Kata yang berakhir dengan suku kata li :

Bali
Beli
Deli
Gali
Geli
Gulali
Jeli
Peduli

Kata yang berakhir dengan suku kata mi :

Alami
Bumi
Cumi
Gurami
Mumi

Kata yang berakhir dengan suku kata ni :

Huni
Juni
Mani
Seni
Tani

Kata yang berakhir dengan suku kata pi :

Api
Kopi
Pipi
Rapi
Rompi
Sapi
Sepi
Tepi
Topi

Kata yang berakhir dengan suku kata ri :

Arteri
Bahari
Baiduri
Beri
Curi
Duri
Lari
Nari
Negeri
Peri
Teri
Veri

Kata yang berakhir dengan suku kata si :

Asi
Admisi
Basi
Besi
Busi
Dasi
Demokrasi
Gusi
Ilusi
Ilustrasi
Inovasi
Kursi
Serasi
Terasi
Variasi

Kata yang berakhir dengan suku kata ti :

Bakti
Belati
Cuti
Ganti
Hati
Mati
Melati
Panti
Peti
Sari Pati

Kata yang berakhir dengan suku kata vi :

Kata yang berakhir dengan suku kata wi :

Duniawi
Kimiawi
Manusiawi
Surgawi

Kata yang berakhir dengan suku kata yi :

Bayi
Rayi
Sunyi

Kata yang berakhir dengan suku kata bu :

Abu
Babu
Bubu
Cumbu
Debu
Ibu
Kelabu
Kelambu
Labu
Tebu

Kata yang berakhir dengan suku kata cu :

Lucu
Manecu

Kata yang berakhir dengan suku kata du :

Adu
Badu
Dadu
Kedu
Sedu

Kata yang berakhir dengan suku kata fu :

Sifu

Kata yang berakhir dengan suku kata gu :

Dungu
Minggu
Tunggu

Kata yang berakhir dengan suku kata hu :

Bahu
Suhu
Tahu

Kata yang berakhir dengan suku kata ku :

Aku
Baku
Bangku
Buku
Daku
Kaku
Laku
Paku
Saku
Suku

Kata yang berakhir dengan suku kata lu :

Alu
Bulu
Dahulu
Dulu
Hulu
Kelu
Palu
Pilu
Malu
Melulu

Kata yang berakhir dengan suku kata mu :

Bertemu
Jamu
Jemu
Kamu
Ramu
Semu

Kata yang berakhir dengan suku kata nu :

Anu
Menu
Panu
Sunu

Kata yang berakhir dengan suku kata pu :

Cepu
Kupu
Tipu

Kata yang berakhir dengan suku kata ru :

Baru
Biru
Buru
Cemburu
Garu
Guru
Haru
Juru
Keliru
Seru
Tiru

Kata yang berakhir dengan suku kata su :

Bisu
Susu
Tisu


Kata yang berakhir dengan suku kata tu :

Batu
Begitu
Katu
Ratu
Sepatu

Kata yang berakhir dengan suku kata vu :

Kata yang berakhir dengan suku kata wu :

Kuwu
Lawu

Kata yang berakhir dengan suku kata yu :

Ayu
Bayu
Dayu
Kayu
Kuyu
Layu
Rayu
Sayu


Kata yang berakhir dengan suku kata as:

Buas
Luas
Puas
Ruas
Tuas

Kata yang berakhir dengan suku kata bas :

Abas
Bebas
Tebas

Kata yang berakhir dengan suku kata cas :

Kata yang berakhir dengan suku kata das :

Adas
Cadas
Cerdas
Pedas
Tindas

Kata yang berakhir dengan suku kata fas :

Nafas
Nifas

Kata yang berakhir dengan suku kata gas :

Migas
Pegas
Satgas
Tugas

Kata yang berakhir dengan suku kata has :

Bahas
Nahas

Kata yang berakhir dengan suku kata kas :

Bekas
Kulkas
Lekas
Markas

Kata yang berakhir dengan suku kata las :

Alas
Culas
Jelas
Kelas
Malas
Pulas

Kata yang berakhir dengan suku kata mas :

Emas
Gemas
Kemas
Lemas
Remas

Kata yang berakhir dengan suku kata nas :

Ganas
Nanas
Panas
Tunas

Kata yang berakhir dengan suku kata pas :

Kipas
Lapas
Lepas

Kata yang berakhir dengan suku kata ras :

Beras
Keras
Miras
Teras

Kata yang berakhir dengan suku kata sas :

Kansas


Kata yang berakhir dengan suku kata tas :

Batas
Beluntas
Kertas
Tas
Tuntas

Kata yang berakhir dengan suku kata vas :

Kanvas
Vas

Kata yang berakhir dengan suku kata was :

Trawas
Was-was

Kata yang berakhir dengan suku kata us :

Kaus
Paus
Saus

Kata yang berakhir dengan suku kata bus :

Rebus
Tebus
Tembus

Kata yang berakhir dengan suku kata cus :

Becus

Kata yang berakhir dengan suku kata fus :

Tyfus

Kata yang berakhir dengan suku kata gus :

Agus
Asparagus
Bagus
Hangus
Sugus

Kata yang berakhir dengan suku kata hus :

Kata yang berakhir dengan suku kata kus :

Kakus
Rakus
Tikus

Kata yang berakhir dengan suku kata lus :

Akal bulus
Lulus
Mulus
Tulus

Kata yang berakhir dengan suku kata mus :

Kata yang berakhir dengan suku kata nus :

Minus
Pinus
Sinus
Venus



Kata yang berakhir dengan suku kata pus :

Lupus
Pupus

Kata yang berakhir dengan suku kata rus :

Jurus
Kurus
Lurus
Terus

Kata yang berakhir dengan suku kata sus :

Kasus
Khusus
Kue sus
Kursus
Usus

Kata yang berakhir dengan suku kata tus :

Kaktus
Ketus
Meletus
Putus
Ratus
Situs
Status

Kata yang berakhir dengan suku kata : yus

Gayus
Jayus

Kata yang berakhir dengan suku kata bes :

Rembes

Kata yang berakhir dengan suku kata tes :

Menetes

Kata yang berakhir dengan suku kata ih :

Buih

Kata yang berakhir dengan suku kata bih :

Lebih

Kata yang berakhir dengan suku kata dih :

Didih
Pedih
Sedih

Kata yang berakhir dengan suku kata rih :

Perih
Sirih

Kata yang berakhir dengan suku kata tih :

Latih
Patih
Putih
Rintih

Kata yang berakhir dengan suku kata puh :

Lumpuh
Tempuh

Kata yang berakhir dengan suku kata bur :

Ubur-ubur
Bubur
Dubur
Kabur
Lebur
Lembur
Sembur
Subur
Tabur
Tambur

Kata yang berakhir dengan suku kata cur :

Cucur
Hancur
Kencur
Lancur
Mancur

Kata yang berakhir dengan suku kata dur :

Undur-undur
Kendur
Mundur
Tidur

Kata yang berakhir dengan suku kata tur :

Atur
Lentur
Luntur
Bentur
Tutur

Kata yang berakhir dengan suku kata sur :

Busur
Kasur

Kata yang berakhir dengan suku kata mur :

Jamur
Jemur
Kumur
Lumur
Mur
Semur
Sumur
Timur
Umur

Kata yang berakhir dengan suku kata nur :

Janur
Benur
Nur
Sanur

Kata yang berakhir dengan suku kata pur :

Dapur
Kapur
Lipur
Lumpur
Tempur

Kata yang berakhir dengan suku kata bar :

Bubar
Gambar
Hambar
Kembar
Ketumbar
Kobar
Lebar
Lembar
Sabar
Sambar
Suku Barbar
Sumbar
Tebar
Umbar

Kata yang berakhir dengan suku kata tar :

Antar
Gemetar
Getar
Gitar
Pintar
Lontar
Putar
Sebentar
Telantar

Kata yang berakhir dengan suku kata mar :

Gemar
Memar
Semar
Kamar
Camar
Cemar
Damar
Lamar
Samar
Lamar

Kata yang berakhir dengan suku kata gar :

Agar
Anggar
Bugar
Cagar
Gegar
Gelegar
Langgar
Pagar
Pugar
Sanggar
Saudagar
Segar
Tegar
Vulgar

Kata yang berakhir dengan suku kata bun :

Embun
Kebun
Rimbun
Sabun
Tambun
Timbun
Ubun-ubun

Kata yang berakhir dengan suku kata lum :

Belum
Kulum
Maklum

Kata yang berakhir dengan suku kata but :

Lembut
Rambut
Bubut
Kabut
Sebut
Gambut
Rebut
Ribut
Cabut
Kebut
Sabut

Kata yang berakhir dengan suku kata cut :

Lucut
Pengecut
Kerucut
Lecut

Kata yang berakhir dengan suku kata kar :

Tukar
Sukar
Mekar
Kekar
Bakar
Akar
Cakar
Dokar
Cikar
Pakar
Lascar
Tikar
Kelakar
Makar
Jangkar
ingkar

Kata yang berakhir dengan suku kata nar :

Benar
Sinar
Nanar
Binar
Dinar
Onar
Tenar
Senar
Lunar

Kata yang berakhir dengan suku kata sar :

Besar
Dasar
Gusar
Selasar
Pasar
Pusar
Sasar
Kasar
Ashar

Kata yang berakhir dengan suku kata bung :

Rebung
Lumbung
Kembung
Tabung
Selubung

Kata yang berakhir dengan suku kata buh :

Kambuh
Imbuh
Sembuh
Subuh
Tabuh
Tubuh
Tumbuh

Kata yang berakhir dengan suku kata tang :

Batang
Datang
Gantang
Kentang
Lintang
Petang
Rentang

Kata yang berakhir dengan suku kata rang :

Arang
Barang
Berang
Carang
Garang
Genderang
Karang
Kerang
Kurang
Larang
Merang
Orang
Parang
Perang
Sarang
Semarang
Serang
Terang

Kata yang berakhir dengan suku kata nung :

Gunung
Renung
Tenung

Kata yang berakhir dengan suku kata dang :

Kendang
Kumandang
Padang
Pandang
Rendang
Sendang
Tendang

Kata yang berakhir dengan suku kata gung :

Agung
Bingung

Kata yang berakhir dengan suku kata nang :

Benang
Kenang
Kunang
Renang
Penang
Senang
Tenang

CONTOH PANTUN


Ke pasar membeli sayur
Duduk di bawah pohon kelapa
Berbicaralah dengan jujur
Niscaya akan dipercaya

Buah apel dari utara
Di hutan banyak cempedak
Ayahku senang tiada tara
Melihat kakek duduk berbedak

Ke Jakarta naik kereta api
Nanti malam pergi ke pasar
Jika ingin menjadi pandai
Kita harus rajin belajar

Janganlah bersembunyi di kolong
Di kolong meja ada hewan
Janganlah engkau menjadi sombong
Orang sombong sedikit kawan

Membuat acar di tengah jalan
Ada orang menuntun sapi
Belajar cuma asal-asalan
Bagai bunga kembang tak jadi

Oleh-oleh dari Sukabumi
Jangan sekedar sepatu sandal
Boleh kita krisis ekonomi
Asalkan jangan krisis moral

Siapa tak suka ikan teri
Mudah disimpan ke dalam kendil
Seketika musang berlari
Dikejar ayam membawa bedil

Jangan dipetik selagi kuncup
Biar tumbuh bersama duri
Menghormati orang tua selagi hidup
Lebih mulia daripada kenduri

Bunga itu jangan dipetik
Langit telah menjadi mendung
Engkaulah gadis tercantik
Kurindukan siang malam

Roda sepeda berputar-putar
Menuju ke arah kota Jakarta
Kalau engkau memang pintar
Hewan apa berkaki lima

Padi merunduk tanda berisi
Kita berilmu karena bersekolah
Janganlah terpaku di depan televisi
Ambil buku dan pelajarilah

Sukailah sayur terong
Terong muda lebih baik
Jika engkau suka berbohong
Engkau termasuk orang munafik

Anton membuat somai
Bu Nita heran seraya berdecak
Penonton bersorak ramai
Melihat kera mengayuh becak

Sebulan tidak berlalu lama
Dia dan aku disebut kami
Tak jadi soal beda agama
Persaudaraan tetap bersemi

Banyak penjual di kota sorong
Tak kutemukan ayam kate
Kakek nenek sudah ompong
Tapi makin suka makan sate

Berbelanja ke Bu Satunah
Buka pagi sampai malam
Janganlah suka membuat fitnah
Fitnah itu amatlah kejam

Makan tahu di tepi jalan
Sambil berlari amat kencang
Wahai para handai taulan
Ikatlah pinggang dengan kencang

Ayo ikut kursus bahasa jawa
Tapi tidak sediakan kopi
Banyak tikus tertawa-tawa
Melihat kucing memakai topi

Orang Afrika berkulit legam
Terantuk batu sebab berlari
Hanya karena telepon genggam
Orang tak malu jadi pencuri

Minum kopi dengan bubur
Matahari sudah tinggi
Kemanapun engkau akan kabur
Pasti akan tertangkap lagi

Buat apa menyetrika
Kalau bajunya masih basah
Buat apa mencari Ika
Kalau hati selalu resah

Ada anak membeli kapas
Yang lain membeli gula jawa
Hatimu putih seperti kapas
Semoga engkau selalu tertawa

Jika di sawah banyak belalang
Kepompong pun dimusnahkan
Jika Arjuna sudah datang
Si Bagong pun dilupakan

Ada kaca terpecah-pecah
Ada nenek minum jamu
Daripada kita marah-marah
Lebih baik menuntut ilmu

Naik sepeda menerjang pagar
Sungguh malu jatuh terjengkang
Zaman sekarang malas belajar
Kelak hidupnya terbelakang

Di bawah pohon ada akar
Hujan jati tak bertemu
Pintar-pintar rajin belajar
Jadi professor impianmu

Burung merpati menari-nari
Bergoyang-goyang di tengah sawah
Sedih rasanya hatiku ini
Mengingat kita akan berpisah

Bunga melati putih warnanya
Harum tetapi tidak berduri
Untuk apa hidup menderita
Mari berdendang menghibur hati

Ibukota Negara di Jakarta
Bandung ibukota Jawa Barat
Tak ada artinya kaya harta
Jika tak beruntung akhirat

Anak bayi belum bergigi
Tapi bisa makan ketupat
Konsumsilah makanan bergizi
Agar tubuh menjadi sehat

Ada tokek memanjat tali
Ada kenek dari Jawa
Sang kakek bermain tali
Sang nenek jadi tertawa

Jika kita makan ubi
Jangan lupa duduk beralas
Jika kita hutang budi
Jangan lupa untuk membalas

Jalan-jalan ke Surabaya
Lihat kadal makan serabi
Mari kawan kita berkarya
Jangan hanya sekedar hobi

Buah manggis buah semangka
Tutupilah dengan kelambu
Kalau ingin Indonesia jaya
Kita semua harus bersatu

Jika belajan membeli sayur
Jangan lupa membeli kelapa
Kita harus belajar jujur
Supaya kita dipercaya

Burung dara burung derkuku
Terbang jauh nun di sana
Betapa hatiku amat rindu
Kepada ayahanda disana

Bunga melati warnanya putih
Di hutan disukai monyet
Hidup ini janganlah bersedih
Mainkan musik kita berjoget

Kulihat kakek minum jamu
Kulihat anjing kejar mengejar
Jika kamu ingin banyak ilmu
Maka rajin-rajinlah kamu belajar

Kulihat ada seekor cicak
Memanjat di pohon kenari
Aku tertawa terbahak-bahak
Melihat nenek menari-nari

Semua manusia punya kaki
Lari dikejar mak lampir
Lihat pemandangan indah sekali
Kita jadi pintar membuat syair

Pergi ke warung membeli nasi
Ke Surabaya naik sepeda
Jadi anak harus berbhakti
Agar disayang orang tua

Paman datang membawa jambu
Berteduh di bawah pohon mangga
Kita harus mencari ilmu
Untuk bekal di hari tua

Gosoklah gigi dengan sikat
Sikat terus sampai berbusa
Jika ingin menjadi sehat
Kita harus berolahraga

Pergi ke pasar membeli sepatu
Beli jeruk naik sepeda
Kita harus selalu bersatu
Menjaga nusa juga bangsa

Di India ada Himalaya
Banyak kawat jadi paku
Kalau engkau benar-benar cinta
Coba tulislah surat untukku

Padi ditanam di tengah sawah
Di sana tidak ada kemumu
Janganlah adik menyimpan susah
Aku selalu mencintai

Semua manusia punya jari
Bukan hanya berjumlah empat
Berolahraga di pagi hari
Membuat badan menjadi sehat

Pagar depan jangan diinjak
Karena memang baru dicuci
Belajar itu memang enak
Apalagi di pagi hari

Ayah ke pasar beli sepatu
Kemudian pergi ke taman
Senang-senanglah kau membantu
Supaya punya banyak teman

Ada mobil mengangkut pintu
Ada delman mengangkat jendela
Senanglah kamu untuk membantu
Agar kamu mendapat fahala

Ada anak makan durian
Sayang tidak ada pisaunya
Aku ingin bepergian
Sayang tidak ada uangnya

Malam minggu pergi ke pasar minggu
Beli kurma naik onta
Jangan lupa shalat lima waktu
Agar kita masuk surga

Burung merpati burung dara
Hinggap di dahan pohon jati
Kalau adik mencintai saya
Mari kita berikrar janji

Buat apa aku punya kuku
Kalau tak tumbuh di jari
Buat apa membeli buku
Kalau tidak dipelajari

Pergi nelayan mencari ikan
Jangan lupa membawa tali
Bekerja memang sangat melelahkan
Jangan sampai lupa diri

Di hutan banyak burung nuri
Burung nuri banyak yang suka
Jangan engkau suka mencuri
Mencuri membuat celaka

Ada gedung sedang terbakar
Isi pen disebut tinta
Semangatlah kalian belajar
Agar tercapai cita-cita

Perempuan menyukai bunga
Sekuntum bunga di atas bangku
Senang-senanglah kamu membaca
Karna buku gudang ilmu

Abdullah membeli semangka
Buah itu akan dimakan
Jangan suka menuduh sesama
Kalau tak bisa membuktikan

Di hutan banyak hewan badak
Di atas rumah banyak tikusnya
Aku tertawa terbahak-bahak
Melihat nenek pakai celana

Air jernih ikannya jinak
Negeri makmur rakyatnya tenteram
Tiada gading yang tak retak
Air beriak tanda tak dalam

Venus itu bintangnya fajar
Jupiter itu planet kelima
Sukseskan program wajib belajar
Sembilan tahun tidaklah lama

Bepergian dengan sepeda
Di jalan menemukan duri
Belajarlah selagi muda
Pasti beruntung di kemudian hari

Ada banyak burung nuri
Seekor hinggap di atas pagar
Belajarlah setiap hari
Hasilnya cepat tanggap dan pintar

Anak bangau turun sepuluh
Mati dua tinggal delapan
Tuntutlah ilmu sungguh-sungguh
Kelak kau tak ketinggalan

Ke Jakarta beli manggis
Di Bali banyak turisnya
Janganlah engkau suka menanggis
Mari belajar bersama-sama

Buat apa makan mentimun
Lebih baik makan nasi
Buat apa duduk melamun
Lebih baik kita mengaji

Jalan-jalan ke Jakarta
Jangan lupa membeli manggis
Rajin-rajinlah engkau bekerja
Jangan Cuma bisa menanggis

Malu bertanya sesat di jalan
Adat tua menanggung ragam
Susah dan senang kita rasakan
Semoga hidup menjadi tentram

Ada buku di bangkumu
Bukunya berwarna merah
Dengarkan penjelasan gurumu
Tidak mengerti bertanyalah

Di hutan banyak burung elang
Terbang melintasi lapangan
Janganlah engkau berlaku curang
Curang merusak persahabatan

Anak ini bernama Cica
Ia senang membaca di kelas
Budayakan gemar membaca
Bacaan sumber ilmu yang luas

Burung bangau di batu cadas
Kupu-kupu sudah cukup umur
Kalau engkau memang cerdas
Dulu mana ayam dan telur

Sepatu sandal hilang sebelah
Sudah dicari tidak ketemu
Tekun belajar selagi muda
Sebanyak mungkin tuntutlah ilmu

Hewan ini tidak berkaki
Hewan itu memang berbisa
Janganlah engkau suka memaki
Karna itu perbuatan dosa

Rumput ilalang bergoyang-goyang
Tertiup angin kesana
Mari kita tunaikan sembahyang
Bekal kita di akahirat nanti

Jalan kaki mendaki gunung
Anak ayam hilang induknya
Jangan biasakan termenung
Termenung tiada gunanya

Amat jauh di ujung kali
Tokek merayap di atas palu
Melihat nenek bermain tali
Kakek tertawa tersipu malu

Jangan suka makan mentimun
Mentimun itu banyak getahnya
Jangan suka duduk melamun
Melamun itu banyak susahnya

Ke Surabaya beli keledai
Keledai lari harus dikejar
Kita harus jadi anak pandai
Syaratnya harus giat belajar

Pukul lima pergi ke Jakarta
Ada orang berbaju coklat
Patuhilah nasihat orang tua
Kan terhindar dari kualat

Pukul enam pergi ke Jakarta
Melihat orang berbaju merah
Saya senang belajar bahasa
Daripada saya marah-marah

Buah manggis rasanya manis
Buah papaya di kebun saya
Apa kabar adik yang manis?
Apa sudah ada yang punya?

Beli salak di dekat pasar
Salak itu murah harganya
Jadi anak rajin belajar
Kelak engkau banyak ilmunya

Haling layu keringlah sudah
Tak lama lagi akan mati
Rajinlah-rajinlah beribadah
Beribadah tentramkan hati

Buat apa punya sagu
Kalau tidak bisa dimakan
Buat apa punya ilmu
Kalau tidak diamalkan

Di buku IPA ada gerak semu
Di buku sejarah ada hal arca
Jika kita ingin berilmu
Senang dan giatlah membaca

Ke Palu beli buah-buahan
Ke Jakarta mencari sedekah
Semua ingin disayang Tuhan
Jadilah anak yang salehah

Karena kuda ada kursinya
Penumpang banyak sekali
Saya senang belajar bersama
Daripada melamun diri

Buah asam masam rasanya
Diberi gula menjadi manis
Walau dia jelek wajahnya
Tetapi mahir bahasa Inggris

Jalan-jalan ke Negara Kenya
Bawa oleh-oleh dari pasar
Sopir bajaj gendut perutnya
Tapi sayang pantatnya besar

Planet Mars berwarna merah
Sungguh indah walau di luar
Daripada kita marah-marah
Lebih baik kita belajar

DAFTAR PUSTAKA

Al-Kamila. 2009. Kumpulan Pantun. Abu_Dillah.tripod.com
Aribawo. 2005. Pantun dan Syair dalam Kesusastraan Melayu Klasik. Multiply Blog Spot
Ensiklopedia Bebas. 21 Agustus 2009. Pantun. Wikipedia Bahasa Indonesia
diambil dari http://http://diarywiens.blogspot.com

pantun

12.23 Posted In Edit This 0 Comments »
.................................................................             PANTUN           ...................................................................

Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Pantun berasal dari kata patuntun dalam bahasa Minangkabau yang berarti "petuntun". Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan, dalam bahasa Sunda dikenal sebagai paparikan, dan dalam bahasa Batak dikenal sebagai umpasa (baca: uppasa). Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, bersajak akhir dengan pola a-b-a-b dan a-a-a-a (tidak boleh a-a-b-b, atau a-b-b-a). Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis.
Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.
Karmina dan talibun merupakan bentuk kembangan pantun, dalam artian memiliki bagian sampiran dan isi. Karmina merupakan pantun "versi pendek" (hanya dua baris), sedangkan talibun adalah "versi panjang" (enam baris atau lebih).

Peran pantun

Sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berfikir. Pantun melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar. Ia juga melatih orang berfikir asosiatif, bahwa suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata yang lain.
Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat, bahkan hingga sekarang. Di kalangan pemuda sekarang, kemampuan berpantun biasanya dihargai. Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berfikir dan bermain-main dengan kata.
Namun demikian, secara umum peran sosial pantun adalah sebagai alat penguat penyampaian pesan.

Struktur pantun

Menurut Sutan Takdir Alisjahbana fungsi sampiran terutama menyiapkan rima dan irama untuk mempermudah pendengar memahami isi pantun. Ini dapat dipahami karena pantun merupakan sastra lisan.
Meskipun pada umumnya sampiran tak berhubungan dengan isi kadang-kadang bentuk sampiran membayangkan isi. Sebagai contoh dalam pantun di bawah ini:
Air dalam bertambah dalam
Hujan di hulu belum lagi teduh
Hati dendam bertambah dendam
Dendam dahulu belum lagi sembuh
Beberapa sarjana Eropa berusaha mencari aturan dalam pantun maupun puisi lama lainnya. Misalnya satu larik pantun biasanya terdiri atas 4-6 kata dan 8-12 suku kata. Namun aturan ini tak selalu berlaku.

Jenis-jenis Pantun

  • Pantun Adat
Menanam kelapa di pulau Bukum
Tinggi sedepa sudah berbuah
Adat bermula dengan hukum
Hukum bersandar di Kitabullah
Ikan berenang didalam lubuk
Ikan belida dadanya panjang
Adat pinang pulang ke tampuk
Adat sirih pulang ke gagang
Lebat daun bunga tanjung
Berbau harum bunga cempaka
Adat dijaga pusaka dijunjung
Baru terpelihara adat pusaka
Bukan lebah sembarang lebah
Lebah bersarang dibuku buluh
Bukan sembah sembarang sembah
Sembah bersarang jari sepuluh
Pohon nangka berbuah lebat
Bilalah masak harum juga
Berumpun pusaka berupa adat
Daerah berluhak alam beraja
  • Pantun Agama
Banyak bulan perkara bulan
Tidak semulia bulan puasa
Banyak tuhan perkara tuhan
Tidak semulia Tuhan Yang Esa
Daun terap di atas dulang
Anak udang mati dituba
Dalam kitab ada terlarang
Yang haram jangan dicoba
Bunga kenanga di atas kubur
Pucuk sari pandan Jawa
Apa guna sombong dan takabur
Rusak hati badan binasa
Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam si riang-riang
Menangis mayat dipintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang
  • Pantun Budi
Bunga cina di atas batu
Daunnya lepas kedalam ruang
Adat budaya tidak berlaku
Sebabnya emas budi terbuang
Diantara padi dengan selasih
Yang mana satu tuan luruhkan
Diantara budi dengan kasih
Yang mana satu tuan turutkan
Apa guna berkain batik
Kalau tidak dengan sujinya
Apa guna beristeri cantik
Kalau tidak dengan budinya
Sarat perahu muat pinang
Singgah berlabuh di Kuala Daik
Jahat berlaku lagi dikenang
Inikan pula budi yang baik
Anak angsa mati lemas
Mati lemas di air masin
Hilang bahasa karena emas
Hilang budi karena miskin
Biarlah orang bertanam buluh
Mari kita bertanam padi
Biarlah orang bertanam musuh
Mari kita menanam budi
Ayam jantan si ayam jalak
Jaguh siantan nama diberi
Rezeki tidak saya tolak
Musuh tidak saya cari
Jikalau kita bertanam padi
Senanglah makan adik-beradik
Jikalau kita bertanam budi
Orang yang jahat menjadi baik
Kalau keladi sudah ditanam
Jangan lagi meminta balas
Kalau budi sudah ditanam
Jangan lagi meminta balas
  • Pantun Jenaka
Pantun Jenaka adalah pantun yang bertujuan untuk menghibur orang yang mendengar, terkadang dijadikan sebagai media untuk saling menyindir dalam suasana yang penuh keakraban, sehingga tidak menimbulkan rasa tersinggung, dan dengan pantun jenaka diharapkan suasana akan menjadi semakin riang. Contoh:
Di mana kuang hendak bertelur
Di atas lata dirongga batu
Di mana tuan hendak tidur
Di atas dada dirongga susu
Elok berjalan kota tua
Kiri kanan berbatang sepat
Elok berbini orang tua
Perut kenyang ajaran dapat
Sakit kaki ditikam jeruju
Jeruju ada didalam paya
Sakit hati memandang susu
Susu ada dalam kebaya
Naik kebukit membeli lada
Lada sebiji dibelah tujuh
Apanya sakit berbini janda
Anak tiri boleh disuruh
Orang Sasak pergi ke Bali
Membawa pelita semuanya
Berbisik pekak dengan tuli
Tertawa si buta melihatnya
Jalan-jalan ke rawa-rawa
Jika capai duduk di pohon palm
Geli hati menahan tawa
Melihat katak memakai helm
Limau purut di tepi rawa,
buah dilanting belum masak
Sakit perut sebab tertawa,
melihat kucing duduk berbedak
jangan suka makan mentimun
karna banyak getahnya
hai kawan jangan melamun
melamun itu tak ada gunanya
  • Pantun Kepahlawanan
Pantun kepahlawanan adalah pantun yang isinya berhubungan dengan semangat kepahlawanan
Adakah perisai bertali rambut
Rambut dipintal akan cemara
Adakah misai tahu takut
Kamipun muda lagi perkasa
Hang Jebat Hang Kesturi
Budak-budak raja Melaka
Jika hendak jangan dicuri
Mari kita bertentang mata
Kalau orang menjaring ungka
Rebung seiris akan pengukusnya
Kalau arang tercorong kemuka
Ujung keris akan penghapusnya
Redup bintang haripun subuh
Subuh tiba bintang tak nampak
Hidup pantang mencari musuh
Musuh tiba pantang ditolak
Esa elang kedua belalang
Takkan kayu berbatang jerami
Esa hilang dua terbilang
Takkan Melayu hilang dibumi
  • Pantun Kias
Ayam sabung jangan dipaut
Jika ditambat kalah laganya
Asam digunung ikan dilaut
Dalam belanga bertemu juga
Berburu kepadang datar
Dapatkan rusa belang kaki
Berguru kepalang ajar
Bagaikan bunga kembang tak jadi
Anak Madras menggetah punai
Punai terbang mengirap bulu
Berapa deras arus sungai
Ditolak pasang balik kehulu
Kayu tempinis dari kuala
Dibawa orang pergi Melaka
Berapa manis bernama nira
Simpan lama menjadi cuka
Disangka nenas di tengah padang
Rupanya urat jawi-jawi
Disangka panas hingga petang
Kiranya hujan tengah hari
  • Pantun Nasihat
Kayu cendana di atas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang
Kemuning di tengah balai
Bertumbuh terus semakin tinggi
Berunding dengan orang tak pandai
Bagaikan alu pencungkil duri
Parang ditetak kebatang sena
Belah buluh taruhlah temu
Barang dikerja takkan sempurna
Bila tak penuh menaruh ilmu
Padang temu padang baiduri
Tempat raja membangun kota
Bijak bertemu dengan jauhari
Bagaikan cincin dengan permata
Ngun Syah Betara Sakti
Panahnya bernama Nila Gandi
Bilanya emas banyak dipeti
Sembarang kerja boleh menjadi
Jalan-jalan ke kota Blitar
jangan lupa beli sukun
Jika kamu ingin pintar
belajarlah dengan tekun
  • Pantun Percintaan
Coba-coba menanam mumbang
Moga-moga tumbuh kelapa
Coba-coba bertanam sayang
Moga-moga menjadi cinta
Limau purut lebat dipangkal
Sayang selasih condong uratnya
Angin ribut dapat ditangkal
Hati yang kasih apa obatnya
Ikan belanak hilir berenang
Burung dara membuat sarang
Makan tak enak tidur tak tenang
Hanya teringat dinda seorang
Anak kera di atas bukit
Dipanah oleh Indera Sakti
Dipandang muka senyum sedikit
Karena sama menaruh hati
Ikan sepat dimasak berlada
Kutunggu di gulai anak seberang
Jika tak dapat di masa muda
Kutunggu sampai beranak seorang
Kalau tuan pergi ke Tanjung
Kirim saya sehelai baju
Kalau tuan menjadi burung
Sahaya menjadi ranting kayu.
Kalau tuan pergi ke Tanjung
Belikan sahaya pisau lipat
Kalau tuan menjadi burung
Sahaya menjadi benang pengikat
Kalau tuan mencari buah
Sahaya pun mencari pandan
Jikalau tuan menjadi nyawa
Sahaya pun menjadi badan.
  • Pantun Peribahasa
Berakit-rakit kehulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian
Ke hulu memotong pagar
Jangan terpotong batang durian
Cari guru tempat belajar
Jangan jadi sesal kemudian
Kerat kerat kayu diladang
Hendak dibuat hulu cangkul
Berapa berat mata memandang
Barat lagi bahu memikul
Harapkan untung menggamit
Kain dibadan didedahkan
Harapkan guruh dilangit
Air tempayan dicurahkan
Pohon pepaya didalam semak
Pohon manggis sebasar lengan
Kawan tertawa memang banyak
Kawan menangis diharap jangan
  • Pantun Perpisahan
Pucuk pauh delima batu
Anak sembilang ditapak tangan
Biar jauh dinegeri satu
Hilang dimata dihati jangan
Bagaimana tidak dikenang
Pucuknya pauh selasih Jambi
Bagaimana tidak terkenang
Dagang yang jauh kekasih hati
Duhai selasih janganlah tinggi
Kalaupun tinggi berdaun jangan
Duhai kekasih janganlah pergi
Kalaupun pergi bertahun jangan
Batang selasih mainan budak
Berdaun sehelai dimakan kuda
Bercerai kasih bertalak tidak
Seribu tahun kembali juga
Bunga Cina bunga karangan
Tanamlah rapat tepi perigi
Adik dimana abang gerangan
Bilalah dapat bertemu lagi
Kalau ada sumur di ladang
Bolehlah kita menumpang mandi
Kalau ada umurku panjang
Bolehlah kita bertemu lagi
  • Pantun Teka-teki
Kalau tuan bawa keladi
Bawakan juga si pucuk rebung
Kalau tuan bijak bestari
Binatang apa tanduk dihidung ?
Beras ladang sulung tahun
Malam malam memasak nasi
Dalam batang ada daun
Dalam daun ada isi
Terendak bentan lalu dibeli
Untuk pakaian saya turun kesawah
Kalaulah tuan bijak bestari
Apa binatang kepala dibawah ?
Kalau tuan muda teruna
Pakai seluar dengan gayanya
Kalau tuan bijak laksana
Biji diluar apa buahnya
Tugal padi jangan bertangguh
Kunyit kebun siapa galinya
Kalau tuan cerdik sungguh
Langit tergantung mana talinya ?
contoh lain pantun :
adakalanya dinyanyikan dengan lagu " Rasa sayange "

"Rasa sayange 
rasa sayang sayange 
kalau lihat ambon dari jauh 
rasa sayang-sayange"


Orang kaya banyak berharta
Ke Sumatra setiap tahun
Bismillah saya membuka kata
Berseni sastra membuat pantun
*
Daun ilalang pucuknya mati
Buah pisang berwarna hitam
Pantun dikarang penghibur hati
Turut kembangkan budaya Etam
*
Daun ilalang taruh di topi
Daun Kurma ditambah lagi
Pantun kukarang di malam sepi
Kala purnama telah meninggi
*
Ambil paku di Kota Raja
Di Kota Raja mendapat intan
Wahai saudaraku di mana saja
Pantun kukarang untuk kalian


BUDAYA ETAM
Jalan-jalan sekitar taman
Jangan patahkan mawar berduri
Wahai kawan sesama seniman
Mari lestarikan budaya sendiri

Anak badak mencari makan
Anak ketam di dalam tanah
Kalau tidak dilestarikan
Budaya Etam pastilah punah

Minum susu memakai rantang
Tumpah di bantal di atas tilam
Anak cucu di masa datang
Tidak kenal budaya Etam

kalau tilam sudahlah basah
Jemur sekarang di atas atap
Budaya etam sangatlah indah
Sungguh sayang, janganlah lenyap

terbang rendah burung peragam
Dari huma terbang ke hutan
Budaya daerah beraneka ragam
Mari bersama kita lestarikan

main gasing janganlah rebah
Memakai tali pelepah pisang
Budaya asing sudah merambah
Budaya asli janganlah hilang

Mari menyanyi sambil menari
Suara dua tinggi dan rendah
Budaya negeri tetap lestari
Negeri kita semakin indah
s
Air terjun bertangga dua
Tempat gadis mencuci kain
Syair, pantun, serta mamanda
Juga masih banyak yang lain

s
Buah kelat waktu dirasa
Meludah lagi kalau tak nyaman
Wahai pejabat serta pengusaha
Bantulah kami para seniman
s
Pohon kurma sebesar paha
Pohon Kemiri tidak berduri
Mari bersama kita berusaha
Mmembangun seni negeri sendiri
s
Anak cecak mencari makan
Bersembunyi di bawah papan
Orang bijak pasti pikirkan
Hari ini dan masa depan
s
Ada ikan namanya tenggiri
Ikan dibawa ke Muara Kaman
Melestarikan budaya negeri
Bukanlah hanya tugas seniman