03.29
Posted In
Cinta
Edit This
Kalau kamu sekarang sudah SMP atau SMA so pasti kamu sudah merasakan satu perasaan yang sangat menyenangkan, namun juga membingungkan, perasaaan itu adalah CINTA, tapi yang biasanya merasakan dahulu adalah putri sedangkan putra malah adakalanya terlambat atau tidak hadir pada masa-masa SMP, kalau masa - masa SMA itu adalah masa yang paling indah, hehehe ... begitulah kenyataannya. mau tahu apa itu CINTA, ikuti ulasan berikut :
Cinta adalah satu perkataan yang
mengandungi makna perasaan yang rumit. Bisa dialami semua makhluk.
Penggunaan perkataan cinta juga dipengaruhi perkembangan semasa.
Perkataan sentiasa berubah arti menurut tanggapan, pemahaman dan
penggunaan di dalam keadaan, kedudukan dan generasi masyarakat yang
berbeda. Sifat cinta dalam pengertian abad ke 21 mungkin berbeda
daripada abad-abad yang lalu. Ungkapan cinta mungkin digunakan untuk
meluapkan perasaan seperti berikut:
dari Segi Terminologi
Penggunaan istilah cinta dalam masyarakat Indonesia dan Malaysia lebih dipengaruhi perkataan
love dalam bahasa Inggris.
Love digunakan dalam semua amalan dan arti untuk
eros, philia, agape dan
storge. Namun demikian perkataan-perkataan yang lebih sesuai masih ditemui dalam bahasa serantau dan dijelaskan seperti berikut:
- Cinta yang lebih cenderung kepada romantis, asmara dan hawa nafsu, eros
- Sayang yang lebih cenderung kepada teman-teman dan keluarga, philia
- Kasih yang lebih cenderung kepada keluarga dan Tuhan, agape
- Semangat nusa yang lebih cenderung kepada patriotisme, nasionalisme dan narsisme, storge
dari segi Etimologi
Beberapa bahasa, termasuk
bahasa Indonesia atau
bahasa Melayu apabila dibandingkan dengan beberapa bahasa mutakhir di
Eropa, terlihat lebih banyak
kosakatanya dalam mengungkapkan
konsep ini. Termasuk juga
bahasa Yunani kuno, yang membedakan antara tiga atau lebih
konsep:
eros,
philia, dan
agape.
Cinta adalah perasaan simpati yang melibatkan emosi yang mendalam. Menurut
Erich Fromm, ada empat syarat untuk mewujudkan cinta kasih, yaitu:
- Perasaan
- Pengenalan
- Tanggung jawab
- Perhatian
- Saling menghormati
Erich Fromm dalam buku larisnya (the art of loving) menyatakan bahwa
ke empat gejala: Care, Responsibility, Respect, Knowledge (CRRK), muncul
semua secara seimbang dalam pribadi yang mencintai. Omong kosong jika
seseorang mengatakan mencintai anak tetapi tak pernah mengasuh dan tak
ada tanggungjawab pada si anak. Sementara tanggungjawab dan pengasuhan
tanpa rasa hormat sesungguhnya & tanpa rasa ingin mengenal lebih
dalam akan menjerumuskan para orang tua, guru, rohaniwan dll pada sikap
otoriter.
Apa saja Jenis-jenis cinta itu ?
Seperti banyak jenis kekasih, ada banyak jenis cinta. Cinta berada di
seluruh semua kebudayaan manusia. Oleh karena perbedaan kebudayaan ini,
maka pendefinisian dari cinta pun sulit ditetapkan. Lihat
hipotesis Sapir-Whorf.
Ekspresi cinta dapat termasuk cinta kepada 'jiwa' atau pikiran, cinta
hukum dan organisasi, cinta badan, cinta alam, cinta makanan, cinta
uang, cinta belajar, cinta kuasa, cinta keterkenalan, dll. Cinta lebih
berarah ke konsep
abstrak, lebih mudah dialami daripada dijelaskan.
Cinta kasih yang sudah ada perlu selalu dijaga agar dapat dipertahankan keindahannya
Cinta antar pribadi
Cinta antar pribadi menunjuk kepada cinta antara manusia. Bentuk ini
lebih dari sekedar rasa kesukaan terhadap orang lain. Cinta antar
pribadi bisa mencakup hubungan kekasih, hubungan orangtua dengan anak,
dan juga persahabatan yang sangat erat.
Beberapa unsur yang sering ada dalam cinta antar pribadi:
- Kasih sayang: menghargai orang lain.
- Altruisme: perhatian non-egois kepada orang lain (yang tentunya sangat jarang kita temui sekarang ini).
- Reciprocation: cinta yang saling menguntungkan (bukan saling memanfaatkan).
- Komitmen: keinginan untuk mengabadikan cinta, tekad yang kuat dalam suatu hubungan.
- Keintiman emosional: berbagi emosi dan rasa.
- Kekerabatan: ikatan keluarga.
- Passion: Hasrat dan atau nafsu seksual yang cenderung menggebu-gebu.
- Physical intimacy: berbagi kehidupan erat satu sama lain secara fisik, termasuk di dalamnya hubungan seksual.
- Kepentingan pribadi: cinta yang mengharapkan imbalan pribadi, cenderung egois dan ada keinginan untuk memanfaatkan pasangan.
- Pelayanan: keinginan untuk membantu dan atau melayani.
- Homoseks:
Cinta dan atau hasrat seksual pada orang yang berjenis kelamin sama,
khususnya bagi pria. Bagi wanita biasa disebut Lesbian (lesbi).
Energi seksual dapat menjadi unsur paling penting dalam menentukan
bentuk hubungan. Namun atraksi seksual sering menimbulkan sebuah ikatan
baru, keinginan seksual dianggap tidak baik atau tidak sepantasnya dalam
beberapa ikatan cinta. Dalam banyak
agama
dan sistem etik hal ini dianggap salah bila memiliki keinginan seksual
kepada keluarga dekat, anak, atau diluar hubungan berkomitmen. Tetapi
banyak cara untuk mengungkapkan rasa
kasih sayang tanpa
seks. Afeksi, keintiman
emosi dan
hobi yang sama sangat biasa dalam berteman dan saudara di seluruh manusia.
jadi gunakan rasa cinta kamu dengan baik, dan jadilah pecinta yang baik khususnya, jangan membuat cinta menjadi suatu hal yang menggelikan. hahaha apa pula itu ?
01.46
Posted In
pantun
Edit This
Bunga Rampai Pantun
SRI WINARNI, S.Pd.
BUNGA RAMPAI
PANTUN
Penerbit
TB Pustaka Ilmu Trawas
BUNGA RAMPAI PANTUN
Oleh: Sri Winarni, S.Pd.
Copyright © 20 by Sri Winarni, S.Pd.
Penerbit
TB Pustaka Ilmu, Trawas
Website : -
wienskayun@yahoo.com
Desain Sampul:
Wiens Kayun
Diterbitkan melalui:
www.nulisbuku.com
Motto :
Bahagia itu semu
Hanya kita yang tahu
Itupun secara sadar dan waras
Jadi kita jalani saja
Dengan satu pedoman
Yakni Agama
Itulah jalan hidup
Ada bahagia, sedih dan semuanya
Langkah, rejeki, pertemuan, dan maut
Allah SWT yang mengatur
Kata Pengantar
Pantun merupakan khasanah bahasa Indonesia. Makna yang terkandung
dalam pantun mudah dicerna, diingat-ingat dan menjadikan “pedoman” bagi
kita.
Dengan pendekatan komunikatif, keberadaan pantun semakin melekat dengan
pembelajaran bahasa Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat
umum juga menyukai dan menggunakan pantun.
Penyusun buku ”Bunga Rampai Pantun” ini bertujuan untuk ikut
melestarikan pantun yang sudah berkembang di masyarakat Indonesia
sebagai wujud apresiasi sastra Indonesia. Selain itu buku ini sekaligus
dapat digunakan sebagai sumber pembelajaran Bahasa Indonesia.
Tiada gading yang tak retak. Atas segala kekurangan buku ini,
penyusun mohon koreksi, saran, dan kritik dari segenap pengguna.
Mudah-mudahan buku ini benar-benar member kontribusi positif dalam dunia
sastra dan pendidikan.
Mojokerto, April 2011
Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Judul
Halaman Motto
Identitas Buku
Kata Pengantar
Daftar isi
Pantun
A.Pengertian Pantun
B.Syarat-Syarat Pantun
C.Peran Pantun
D.Jenis Pantun Berdasarkan Isinya
E.Jenis Pantun Berdasarkan Bentuknya
F.Cara Menyusun Pantun
G.Cara Menyelesaikan Pantun
Kamus Pantun
Contoh Pantun
Daftar Pustaka
PANTUN
A.Pengertian Pantun
Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara.
Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan dan dalam bahasa Sunda dikenal sebagai paparikan.
B.Syarat-Syarat pantun :
1.Terdiri atas empat larik/baris
2.Tiap baris terdiri dari 8 sampai 12 suku kata, tapi yang lazim
3.Baris pertama dan kedua merupakan sampiran
4.Baris ketiga dan keempat merupakan isi
5.Bersajak akhir dengan pola a-b-a-b
Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian yaitu : sampiran dan isi.
Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam
(mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak
punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk
mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang
merupakan tujuan dari pantun tersebut.
C.Peran Pantun
Sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi
kata dan kemampuan menjaga alur berfikir. Pantun melatih seseorang untuk
berfikir tentang makna kata sebelum berujar. Ia juga melatih orang
berfikir asosiatif, bahwa suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata
yang lain.
Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat, bahkan hingga
sekarang. Di kalangan pemuda sekarang, kemampuan berpantun biasanya
dihargai. Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berfikir dan
bermain-main dengan kata. Seringkali bercampur dengan bahasa-bahasa
lain. Namun demikian, secara umum peran sosial pantun adalah sebagai
alat penguat penyampaian pesan.
D.Jenis Pantun Berdasarkan Isinya
1.Pantun Anak-anak
a.Pantun bersuka cita
Pantun bersuka cita adalah pantun yang isinya mengungkapkan perasaan gembira/bahagia
Contoh :
Burung merpati burung dara (baris 1)
Terbang menuju angkasa luas (baris 2)
Hati siapa takkan gembira (baris 3)
Karena aku telah naik kelas (baris 4)
Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)
b.Pantun berduka cita
Pantun berduka cita adalah pantun yang berisi ungkapan kesedihan hati atau berduka
Contoh :
Memetik manggis di kota Kedu (baris 1)
Membeli tebu uangnya hilang (baris 2)
Menangis adik tersedu-sedu (baris 3)
Mencari ibu belum juga pulang (baris 4)
Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)
2.Pantun Muda
a.Pantun nasib (pantun dagang)
Pantun nasib (pantun dagang) adalah pantun yang merupakan penggambaran keadaan seseorang.
Contoh :
Pergi sekolah mampir Cimahi (baris 1)
Depan bukit lihat ilalang (baris 2)
Mungkin sudah takdir Illahi (baris 3)
Badan sakit tinggal tulang (baris 4)
Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)
b.Pantun perkenalan
Pantun perkenalan adalah pantun yang berisi ungkapan untuk mengenal seseorang dan ucapannya berupa pantun.
Contoh :
Dari mana hendak kemana (baris 1)
Manggis dipetik dengan pisau (baris 2)
Kalau boleh kami bertanya (baris 3)
Gadis cantik siapa namamu (baris 4)
Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)
c.Pantun berkasih-kasihan
Pantun berkasih-kasihan adalah pantun yang berisi ungkapan yang ditujukan pada orang yang dicintainya.
Contoh :
Jalan lurus menuju Tuban (baris 1)
Terus pergi mengangkat peti (baris 2)
Badan kurus bukan tak makan (baris 3)
Kurus memikir si jantung hati (baris 4)
Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)
d.Pantun perpisahan
Pantun perpisahan adalah pantun yang berisi ungkapan perpisahan.
Contoh :
Jaga tugu di tengah jalan (baris 1)
Menjala ikan mendapat kerang (baris 2)
Tega nian aku kau tinggalkan (baris 3)
Hidup di dunia hanya seorang (baris 4)
Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)
e.Pantun jenaka
Pantun jenaka adalah pantun yang berisi tentang hal-hal yang lucu dan mustahil terjadi.
Contoh :
Kita bersama pergi ke Bali (baris 1)
Jalan ke kota membeli mangga (baris 2)
Hati siapa takkan geli (baris 3)
Melihat babi berpita tiga (baris 4)
Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)
f.Pantun teka-teki
Pantun teka-teki adalah pantun yang membutuhkan jawaban.
Contoh :
Menuruni jurang yang landai (baris 1)
Berjalan di atas rumput teki (baris 2)
Kalau anda memanglah pandai (baris 3)
Hewan apa tanduk di kaki (baris 4)
Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)
3.Pantun Tua
a.Pantun adat
Pantun adat adalah pantun yang berisi peringatan tentang kebiasaan di daerah tertentu.
Contoh :
Tolong menolong umpama jari (baris 1)
Setiap hari bantu-membantu (baris 2)
Bekerja selalu berlima diri (baris 3)
Itulah misal Tuhan memberimu (baris 4)
Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)
b.Pantun agama
Pantun agama adalah pantun yang berisi ungkapan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan agama.
Contoh :
Makan coklat di lampu redup (baris 1)
Kebun bakau dahannya mati (baris 2)
Sholatlah engkau selama hidup (baris 3)
Sebelum kau sendiri disholati (baris 4)
Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)
c.Pantun nasihat
Pantun adalah pantun yang berisi ungkapan untuk mengenal seseorang dan ucapannya berupa pantun.
Contoh :
Buah kelapa buah lontar (baris 1)
Dibeli ayah dari pekan (baris 2)
Rajin-rajinlah kau belajar (baris 3)
Untuk bekal masa depan (baris 4)
Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)
E.Jenis Pantun Berdasarkan Bentuknya
1.Pantun biasa
Ciri-cirinya :
a.Terdiri dari 4 baris
b.Tiap baris terdiri dari 8 sampai 12 suku kata
c.Baris pertama dan kedua disebut sampiran, baris ketiga dan keempat disebut isi
d.Berpola/bersajak a b a b
Contoh :
Bunga melati warnanya putih (baris 1)
Di hutan disukai monyet (baris 2)
Hidup ini janganlah bersedih (baris 3)
Mainkan musik kita berjoget (baris 4)
Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)
2.Karmina/pantun kilat
Karmina atau dikenal dengan nama pantun kilat adalah pantun yang terdiri
dari dua baris. Baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua adalah
isi. Memiliki pola sajak lurus (aa). Biasanya digunakan untuk
menyampaikan sindiran atau pun ungkapan secara langsung.
Contoh :
Di kolong meja ada hewan (baris 1)
Orang sombong sedikit kawan (baris 2)
Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
3.Talibun
Talibun adalah sejenis puisi lama / pantun karena mempunyai sampiran dan
isi, tetapi lebih dari 4 baris (mulai dari 6 baris hingga 20 baris).
Berirama abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde, dstnya.
Ciri-ciri Talibun :
a.Ia merupakan sejenis puisi bebas
b.Terdapat beberapa baris dalam rangkap untuk menjelaskan pemerian
c.Isinya berdasarkan sesuatu perkara diceritakan secara terperinci
d.Tiada pembayang. Setiap rangkap dapat menjelaskan satu keseluruhan cerita
e.Gaya bahasa yang luas dan lumrah (member penekanan kepada bahasa yang berirama seperti pengulangan dll)
f.Berfungsi untuk menjelaskan sesuatu perkara
g.Merupakan bahan penting dalam pengkaryaan cerita penglipur lara.
Contoh :
Tengah malam sudah terlampau
Dini hari belum lagi Nampak
Budak-budak dua kali jaga
Orang muda pulang bertandang
Orang tua berkalih tidur
Embun jantan rintik-rintik
Bnerbunyi kuang jauh ke tengah
Sering lanting riang di rimba
Melenguh lembu di padang
Sambut menguak kerbau di kandang
Berkokok mendung Merak mengigal
Fajar sidik menyinsing naik
Kicak-kicak bunyi Murai
Taktibau melambung tinggi
Berkuku balam dihujung bendul
Terdengar puyuh panjang bunyi
Puntung sejengkal tinggal sejari
Itulah alamat hari nak siang
(Hikayat Malim Demam)
4.Gurindam
Gurindam adalah satu bentuk puisi/pantun Melayu lama yang terdiri dari
dua bait, tiap bait terdiri dari 2 baris kalimat dengan irama akhir yang
sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Baris pertama berisikan
semacam soal, masalah atau perjanjian dan baris kedua berisikan
jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama
tadi.
Contoh :
Gurindam yang terkenal yaitu Gurindam 12 karya Raja Ali Haji
Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama
Barang siapa mengenal yang empat,
Maka ia itulah orang yang ma’rifat
Barang siapa mengenal Allah,
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah
Barang siapa mengenal diri,
Maka telah mengenal akan Tuhan Yang Bahari
Barang siapa mengenal dunia,
Tahulah ia barang yang teperdaya
Barang siapa mengenal akhirat,
Tahulah ia dunia mudarat
F.Cara menyusun Pantun
Langkah-langkah menyusun pantun yaitu :
Pertama : menentukan jenis pantun yang akan kita
Kedua : kita harus mempunyai banyak perbendaharaan kata, sehingga
apabila kita akan membuat huruf agar sesuai (berima) mudah mencarinya.
Contoh :
Kita akan membuat pantu nasihat
Isi nasihat kita tulis dahulu :
Asal kita rajin serta tekun (baris 3)
Tentulah kita kan berprestasi (baris 4)
Kini kita buat kalimat untuk baris pertama dengan huruf akhir harus kun, untuk kalimat baris keempat suku akhir harus si.
Kita cari kata yang suku kata akhir berbunyi kun, kemudian kita tentukan
yang pantas kita gunakan : dukun, sukun, kalkun, atau boleh juga
menggunakan kata yang suku kata akhirnya bervokal un, misalnya : dusun,
susun, atau midun.
Sekarang kita coba membuat kalimatnya sebagai baris pertama, yang akan kita pasangkan dengan kalimat baris ketiga.
Pergi ke pasar membeli sukun (baris 1)
Asal kita rajin serta tekun (baris 3)
Kalau sudah Nampak serasi, kita buat baris dengan suku kata akhir si
atau kata yang bervokal akhir i : busi, saksi, basi, susi, nasi, taksi,
dll. Kata ini akan kita pasangkan dengan baris keempat dengan vocal
(suku kata) akhir si.
Tidak lupa membawa nasi (baris 2)
Tentulah kita kan berprestasi (baris 4)
Setelah kita mendapatkan empat kalimat, cobalah disusun sambil kita rasakan keserasiannya.
Pergi ke pasar membeli sukun (baris 1)
Tidak lupa membawa nasi (baris 2)
Asal kita rajin dan tekun (baris 3)
Tentulah kita kan berprestasi (baris 4)
Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)
Kita coba menyusun bait lagi pantun teka-teki. Kita tuliskan dulu isi pantun yang kita kehendaki.
Kalau kau memang anak pintar (baris 3)
Hewan apa hidung berbelalai (baris 4)
Kita buat kalimat baris pertama dengan vocal akhir ar atau tar.
Kata-kata yang akan kita pilih : lontar, gentar, sasar, kekar, mekar,
lahar, kabar, dll
Buah kelapa buah lontar (baris 1)
Kalau kamu anak yang pintar (baris 3)
Untuk baris kedua, kita cari kata yang bervokal atau mempunyai suku kata
akhir lai. Misalnya : kedai, santai, petai, gulai, dan lain-lain.
Menangkap burung dimasak gulai (baris 2)
Hewan apa hidung berbelalai (baris 4)
Setelah ada 4 kalimat atau 4 baris, kita susun sambil kiya hayati :
Buah kelapa buah lontar (baris 1)
Menangkap burung dimasak gulai (baris 2)
Kalau kamu anak pintar (baris 3)
Hewan apa hidung berbelalai (baris 4)
Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)
Jadilah pantun teka-teki dengan tebakan isinya adalah gajah.
Jika kita teliti dan memiliki perbendaharaan kata yang cukup banyak,
maka akan sangat mudah bagi kita untuk menyusun sebuah pantun.
G.Cara Menyelesaikan Pantun
Kita sering menjumpai ada beberapa soal yang mengharuskan kita untuk
menyelesaikan / menyempurnakan sebuah pantun. Berikut adalah trik untuk
mengatasi permasalahan tersebut.
Sebagai contoh :
………………………… (baris 1)
………………………… (baris 2)
Sekali lancung keujian (baris 3)
Seumur hidup orang tak kan percaya
(baris 4)
Langkah-langkahnya sebagai berikut :
Pertama kita harus berusaha membuat kalimat yang suku kata akhir harus
an, atau bervokal akhir an, misalnya : pertanian, ujian, durian, kajian,
bagian, tiduran, Koran, kawan, sopan, dan lain-lain. Kalimat ini
berkedudukan sebagai baris 1
Misalnya :
a.Membeli burung dan durian
b.Pergi mendayung ke tepian
c.Dari Bandung bawa koran
d.Langit mendung akan hujan
Selanjutnya menentukan baris kedua, harus bersuku kata akhir atau
bervokal ya, supaya sama dengan percaya, misalnya : papaya, Surabaya,
kaya, raya, majalaya, jaya, dan lain-lain.
Misalnya :
a.Mencari kerang ke Surabaya
b.Sayur kerang dengan papaya
c.Pergi ke timur ke sarang buaya
d.Bersepada motor di jalan raya
Sekarang kita tentukan :
Dari Bandung bawa koran
Pergi ke timur sarang buaya
Sekali lancung keujian
Seumur hidup orang tak percaya
Keterangan :
Baris 1 – rima a
Baris 2 – rima b
Baris 3 – rima a
Baris 4 – rima b
Contoh lain :
Bapa ke kebun parang dibawa (baris 1)
Kawat dibungkus kain dan pita (baris 2)
……………………….. (baris 3)
……………………….. (baris 4)
Perlu diingat! Baris 3 dan 4 yang harus kita tulis adalah isi pantun, bukan sampiran, jadi harus kalimat yang bermakna.
Kita cari baris pertama dengan vocal akhir wa, misalnya : kurawa, ambarawa, tawa, tertawa, dan lain-lain.
Baris kedua kalimat dengan vocal akhir atau suku kata akhir, ta,
misalnya : Jakarta, kacamata, mata, buta, kita, dan lain-lain.
Contoh pilihan :
Semua orang tentu kan tertawa
Melihat tikus berkaca mata
Jadi susunan lengkapnya :
Bapa ke kebun parang dibawa (baris 1)
Kawat dibungkus kain dan pita (baris 2)
Semua orang tentu kan tertawa (baris 3)
Melihat tikus berkaca mata (baris 4)
KAMUS PANTUN
Kata yang berakhir dengan vocal a :
Aba
Ada
Adikuasa
Adimarga
Adinda
Adipura
Adiraja
Agenda
Agraria
Aksara
Aktiva
Ala
Baca
Bahasa
Baja
Balada
Bangka
Bangsa
Beda
Bendahara
Berhala
Beta
Betina
Biasa
Bila
Bina
Bola
Budaya
Busa
Busana
Buta
Cakrawala
Canda
Cara
Cela
Celaka
Celana
Cemara
Cempaka
Cerca
Cerna
Cendana
Cipta
Coba
Cuaca
Dada
Dahlia
Damba
Dana
Darma
Dasa
Dasawarsa
Data
Delima
Delta
Denda
Dera
Derma
Dermaga
Desa
Dewa
Dia
Dinda
Diploma
Diraja
Dogma
Domba
Dosa
Duda
Duga
Duka
Dunia
Dupa
Dursila
Durhaka
Dwiwarna
Etika
Fakta
Fana
Fatwa
Fauna
Fenomena
Firma
Flora
Fobia
Fusta
Gada
Gaga
Gala-gala
Ganda
Gandarwa
Garuda
Gatra
Gema
Gembira
Genta
Gerhana
Gorilla
Gula
Gulana
Guna
Hamba
Hampa
Hanya
Hara
Harpa
Harta
Hasta
Hatta
Hina
Hingga
Huma
Ia
Ibunda
Idola
Iga
Ikebana
Indra
Influenza
Informatika
Insektisida
Intelegensia
Irama
Istana
Jaga
Jaka
Janda
Jangka
Jasa
Jera
Jua
Jumpa
Kaca
Kacamata
Kafetaria
Kanda
Kamboja
Kamera
Kanta
Karisma
Karma
Karsa
Kartika
Karya
Kasa
Kecewa
Kejora
Kelola
Keluarga
Kentara
Kerangka
Ketua
Khatulistiwa
Koma
Kontra
Kopra
Kota
Kotapraja
Kuasa
Kurma
Kusta
Laba
Lada
Laga
Laksa
Laksana
Laktosa
Lama
Lara
Lava
Lega
Legenda
Lembaga
Lensa
Lepra
Liga
Lima
Limpa
Loba
Luka
Lupa
Lusa
Magenta
Maha
Mahadewa
Mahardika
Maheswara
Maizena
Malaria
Mangsa
Mantera
Margasatwa
Mayapada
Mekanika
Murka
Nama
Nayaka
Negara
Neraca
Nestapa
Nira
Nyawa
Oksida
Olahraga
Omega
Pagoda
Paksa
Pala
Panca
Pancaindra
Pancasila
Panitia
Pariwara
Pariwisata
Peka
Pelana
Penjara
Perkara
Piala
Pidana
Raba
Raga
Raja
Rama-rama
Sahaja
Saja
Saka
Sama
Sandera
Sangkala
Sauna
Savana
Tamasya
Utara
Vagina
Vulva
Wacana
Zona
Kata yang berakhir dengan vocal i :
Abadi
Abdi
Adi
Admisi
Aji
Alami
Arloji
Arteri
Bahari
Baiduri
Baki
Banci
Bayi
Belati
Bendi
Besi
Bumi
Caci
Dahi
Dai
Dasi
Deli
Demokrasi
Dengki
Ebi
Gaji
Gali
Geli
Hari
Huni
Ilustrasi
Ilusi
Imaji
Inovasi
Jeli
Janji
Jari
Judi
Kopi
Kursi
Laci
Lari
Negeri
Ragi
Kata yang berakhir dengan vocal u :
Aku
Babu
Bangku
Bayu
Biru
Buku
Bulu
Cemburu
Cepu
Cumbu
Dadu
Dungu
Jemu
Kelabu
Keliru
Labu
Laju
Laku
Lucu
Madu
Melulu
Paku
Palu
Perlu
Ramu
Kata yang berakhir dengan vocal e :
Babe
Cabe
Jahe
Kate
Matre
Monte
Rante
Sate
Tante
Tape
Tempe
Kata yang berakhir dengan vocal o :
Bakso
Baliho
Bego
Beo
Melo
Kata yang berakhir dengan vocal ao :
Bakpao
Kata yang berakhir dengan vocal au :
Cincau
Kacau
Kerbau
Pulau
Kata yang berakhir dengan vocal ai :
Andai
Badai
Balai
Belalai
Gulai
Jablai
Lantai
Pandai
Pantai
Petai
Santai
Tangkai
Teratai
Kata yang berakhir dengan vocal oi :
Amboi
Koboi
Sepoi
Kata yang berakhir dengan suku kata ba :
Iba
Domba
Hamba
Laba
Loba
Tiba
Raba
Rimba
Kata yang berakhir dengan suku kata ca :
Baca
Cerca
Cuaca
Kaca
Merica
Neraca
Panca
Rica-rica
Kata yang berakhir dengan suku kata da :
Ada
Adinda
Agenda
Balada
Beda
Canda
Dada
Denda
Dinda
Duda
Gada
Ganda
Garuda
Ibunda
Janda
Kanda
Lada
Pagoda
Kata yang berakhir dengan suku kata ga :
Adimarga
Bangga
Dermaga
Duga
Gaga
Hingga
Iga
Jaga
Jingga
Juga
Keluarga
Laga
Lega
Lembaga
Mangga
Olahraga
Omega
Raga
Surga
Telaga
Tiga
Kata yang berakhir dengan suku kata ha :
Maha
Kata yang berakhir dengan suku kata ja :
Adiraja
Baja
Diraja
Kamboja
Kotapraja
Raja
Sahaja
Saja
Kata yang berakhir dengan suku kata ka :
Bangka
Celaka
Cempaka
Duka
Durhaka
Etika
Jaka
Jangka
Kartika
Kerangka
Luka
Malaka
Mekanika
Murka
Nangka
Nayaka
Peka
Saka
Suka
Terka
Kata yang berakhir dengan suku kata la :
Berhala
Bila
Bola
Cakrawala
Cela
Gala-gala
Gorila
Gula
Pala
Pancasila
Piala
Sangkala
Kata yang berakhir dengan suku kata ma :
Delima
Derma
Diploma
Dogma
Firma
Gema
Huma
Irama
Karisma
Karma
Lima
Koma
Kurma
Nama
Rama-rama
Kata yang berakhir dengan suku kata na :
Betina
Bina
Busana
Buta
Cerna
Cendana
Dana
Dwiwarna
Fana
Fauna
Fenomena
Gerhana
Gulana
Guna
Hina
Ikebana
Istana
Maizena
Pelana
Pidana
Sauna
Savana
Vagina
Wacana
Zona
Kata yang berakhir dengan suku kata pa :
Hampa
Harpa
Jumpa
Limpa
Lupa
Nestapa
Rupa
Kata yang berakhir dengan suku kata ra :
Adipura
Aksara
Bara
Bendahara
Bendera
Cemara
Flora
Gapura
Gembira
Jera
Kamera
Kejora
Kentara
Kura-kura
Lara
Menara
Penjara
Perkara
Pura-pura
Sandera
Saudara
Kata yang berakhir dengan suku kata sa :
Adikuasa
Bahasa
Bangsa
Biasa
Bisa
Busa
Dasa
Dasawarsa
Desa
Jasa
Karsa
Kasa
Kuasa
Laksa
Laktosa
Lensa
Lusa
Mangsa
Paksa
Kata yang berakhir dengan suku kata ta :
Bata
Cipta
Fakta
Fusta
Genta
Harta
Hasta
Hatta
Kacamata
Kanta
Kota
Kusta
Magenta
Pariwisata
Kata yang berakhir dengan suku kata va :
Aktiva
Lava
Larva
Sativa
Viva
Vulva
Kata yang berakhir dengan suku kata wa :
Dewa
Fatwa
Gandarwa
Kecewa
Mahadewa
Margasatwa
Nyawa
Tawa
Tertawa
Kata yang berakhir dengan suku kata ya :
Buaya
Budaya
Cahaya
Daya
Hanya
Karya
Maya
Sahaya
Saya
Tamasya
Upaya
Kata yang berakhir dengan suku kata bi :
Babi
Ebi
Lobi
Hobi
Nabi
Serabi
Kata yang berakhir dengan suku kata ci :
Aci
Banci
Benci
Caci
Guci
Kurcaci
Kuwaci
Laci
Moci
Poci
Sekoci
Suci
Kata yang berakhir dengan suku kata di :
Abadi
Abdi
Adi
Bendi
Budi
Judi
Kemudi
Kendi
Mandi
Kata yang berakhir dengan suku kata fi :
Kata yang berakhir dengan suku kata gi :
Bagi
Lagi
Pagi
Ragi
Segi
Tinggi
Kata yang berakhir dengan suku kata hi :
Dahi
Kata yang berakhir dengan suku kata ji :
Aji
Arloji
Gaji
Gergaji
Imaji
Janji
Kanji
Kata yang berakhir dengan suku kata ki :
Aki
Baki
Daki
Dengki
Kaki
Maki
Teki
Kata yang berakhir dengan suku kata li :
Bali
Beli
Deli
Gali
Geli
Gulali
Jeli
Peduli
Kata yang berakhir dengan suku kata mi :
Alami
Bumi
Cumi
Gurami
Mumi
Kata yang berakhir dengan suku kata ni :
Huni
Juni
Mani
Seni
Tani
Kata yang berakhir dengan suku kata pi :
Api
Kopi
Pipi
Rapi
Rompi
Sapi
Sepi
Tepi
Topi
Kata yang berakhir dengan suku kata ri :
Arteri
Bahari
Baiduri
Beri
Curi
Duri
Lari
Nari
Negeri
Peri
Teri
Veri
Kata yang berakhir dengan suku kata si :
Asi
Admisi
Basi
Besi
Busi
Dasi
Demokrasi
Gusi
Ilusi
Ilustrasi
Inovasi
Kursi
Serasi
Terasi
Variasi
Kata yang berakhir dengan suku kata ti :
Bakti
Belati
Cuti
Ganti
Hati
Mati
Melati
Panti
Peti
Sari Pati
Kata yang berakhir dengan suku kata vi :
Kata yang berakhir dengan suku kata wi :
Duniawi
Kimiawi
Manusiawi
Surgawi
Kata yang berakhir dengan suku kata yi :
Bayi
Rayi
Sunyi
Kata yang berakhir dengan suku kata bu :
Abu
Babu
Bubu
Cumbu
Debu
Ibu
Kelabu
Kelambu
Labu
Tebu
Kata yang berakhir dengan suku kata cu :
Lucu
Manecu
Kata yang berakhir dengan suku kata du :
Adu
Badu
Dadu
Kedu
Sedu
Kata yang berakhir dengan suku kata fu :
Sifu
Kata yang berakhir dengan suku kata gu :
Dungu
Minggu
Tunggu
Kata yang berakhir dengan suku kata hu :
Bahu
Suhu
Tahu
Kata yang berakhir dengan suku kata ku :
Aku
Baku
Bangku
Buku
Daku
Kaku
Laku
Paku
Saku
Suku
Kata yang berakhir dengan suku kata lu :
Alu
Bulu
Dahulu
Dulu
Hulu
Kelu
Palu
Pilu
Malu
Melulu
Kata yang berakhir dengan suku kata mu :
Bertemu
Jamu
Jemu
Kamu
Ramu
Semu
Kata yang berakhir dengan suku kata nu :
Anu
Menu
Panu
Sunu
Kata yang berakhir dengan suku kata pu :
Cepu
Kupu
Tipu
Kata yang berakhir dengan suku kata ru :
Baru
Biru
Buru
Cemburu
Garu
Guru
Haru
Juru
Keliru
Seru
Tiru
Kata yang berakhir dengan suku kata su :
Bisu
Susu
Tisu
Kata yang berakhir dengan suku kata tu :
Batu
Begitu
Katu
Ratu
Sepatu
Kata yang berakhir dengan suku kata vu :
Kata yang berakhir dengan suku kata wu :
Kuwu
Lawu
Kata yang berakhir dengan suku kata yu :
Ayu
Bayu
Dayu
Kayu
Kuyu
Layu
Rayu
Sayu
Kata yang berakhir dengan suku kata as:
Buas
Luas
Puas
Ruas
Tuas
Kata yang berakhir dengan suku kata bas :
Abas
Bebas
Tebas
Kata yang berakhir dengan suku kata cas :
Kata yang berakhir dengan suku kata das :
Adas
Cadas
Cerdas
Pedas
Tindas
Kata yang berakhir dengan suku kata fas :
Nafas
Nifas
Kata yang berakhir dengan suku kata gas :
Migas
Pegas
Satgas
Tugas
Kata yang berakhir dengan suku kata has :
Bahas
Nahas
Kata yang berakhir dengan suku kata kas :
Bekas
Kulkas
Lekas
Markas
Kata yang berakhir dengan suku kata las :
Alas
Culas
Jelas
Kelas
Malas
Pulas
Kata yang berakhir dengan suku kata mas :
Emas
Gemas
Kemas
Lemas
Remas
Kata yang berakhir dengan suku kata nas :
Ganas
Nanas
Panas
Tunas
Kata yang berakhir dengan suku kata pas :
Kipas
Lapas
Lepas
Kata yang berakhir dengan suku kata ras :
Beras
Keras
Miras
Teras
Kata yang berakhir dengan suku kata sas :
Kansas
Kata yang berakhir dengan suku kata tas :
Batas
Beluntas
Kertas
Tas
Tuntas
Kata yang berakhir dengan suku kata vas :
Kanvas
Vas
Kata yang berakhir dengan suku kata was :
Trawas
Was-was
Kata yang berakhir dengan suku kata us :
Kaus
Paus
Saus
Kata yang berakhir dengan suku kata bus :
Rebus
Tebus
Tembus
Kata yang berakhir dengan suku kata cus :
Becus
Kata yang berakhir dengan suku kata fus :
Tyfus
Kata yang berakhir dengan suku kata gus :
Agus
Asparagus
Bagus
Hangus
Sugus
Kata yang berakhir dengan suku kata hus :
Kata yang berakhir dengan suku kata kus :
Kakus
Rakus
Tikus
Kata yang berakhir dengan suku kata lus :
Akal bulus
Lulus
Mulus
Tulus
Kata yang berakhir dengan suku kata mus :
Kata yang berakhir dengan suku kata nus :
Minus
Pinus
Sinus
Venus
Kata yang berakhir dengan suku kata pus :
Lupus
Pupus
Kata yang berakhir dengan suku kata rus :
Jurus
Kurus
Lurus
Terus
Kata yang berakhir dengan suku kata sus :
Kasus
Khusus
Kue sus
Kursus
Usus
Kata yang berakhir dengan suku kata tus :
Kaktus
Ketus
Meletus
Putus
Ratus
Situs
Status
Kata yang berakhir dengan suku kata : yus
Gayus
Jayus
Kata yang berakhir dengan suku kata bes :
Rembes
Kata yang berakhir dengan suku kata tes :
Menetes
Kata yang berakhir dengan suku kata ih :
Buih
Kata yang berakhir dengan suku kata bih :
Lebih
Kata yang berakhir dengan suku kata dih :
Didih
Pedih
Sedih
Kata yang berakhir dengan suku kata rih :
Perih
Sirih
Kata yang berakhir dengan suku kata tih :
Latih
Patih
Putih
Rintih
Kata yang berakhir dengan suku kata puh :
Lumpuh
Tempuh
Kata yang berakhir dengan suku kata bur :
Ubur-ubur
Bubur
Dubur
Kabur
Lebur
Lembur
Sembur
Subur
Tabur
Tambur
Kata yang berakhir dengan suku kata cur :
Cucur
Hancur
Kencur
Lancur
Mancur
Kata yang berakhir dengan suku kata dur :
Undur-undur
Kendur
Mundur
Tidur
Kata yang berakhir dengan suku kata tur :
Atur
Lentur
Luntur
Bentur
Tutur
Kata yang berakhir dengan suku kata sur :
Busur
Kasur
Kata yang berakhir dengan suku kata mur :
Jamur
Jemur
Kumur
Lumur
Mur
Semur
Sumur
Timur
Umur
Kata yang berakhir dengan suku kata nur :
Janur
Benur
Nur
Sanur
Kata yang berakhir dengan suku kata pur :
Dapur
Kapur
Lipur
Lumpur
Tempur
Kata yang berakhir dengan suku kata bar :
Bubar
Gambar
Hambar
Kembar
Ketumbar
Kobar
Lebar
Lembar
Sabar
Sambar
Suku Barbar
Sumbar
Tebar
Umbar
Kata yang berakhir dengan suku kata tar :
Antar
Gemetar
Getar
Gitar
Pintar
Lontar
Putar
Sebentar
Telantar
Kata yang berakhir dengan suku kata mar :
Gemar
Memar
Semar
Kamar
Camar
Cemar
Damar
Lamar
Samar
Lamar
Kata yang berakhir dengan suku kata gar :
Agar
Anggar
Bugar
Cagar
Gegar
Gelegar
Langgar
Pagar
Pugar
Sanggar
Saudagar
Segar
Tegar
Vulgar
Kata yang berakhir dengan suku kata bun :
Embun
Kebun
Rimbun
Sabun
Tambun
Timbun
Ubun-ubun
Kata yang berakhir dengan suku kata lum :
Belum
Kulum
Maklum
Kata yang berakhir dengan suku kata but :
Lembut
Rambut
Bubut
Kabut
Sebut
Gambut
Rebut
Ribut
Cabut
Kebut
Sabut
Kata yang berakhir dengan suku kata cut :
Lucut
Pengecut
Kerucut
Lecut
Kata yang berakhir dengan suku kata kar :
Tukar
Sukar
Mekar
Kekar
Bakar
Akar
Cakar
Dokar
Cikar
Pakar
Lascar
Tikar
Kelakar
Makar
Jangkar
ingkar
Kata yang berakhir dengan suku kata nar :
Benar
Sinar
Nanar
Binar
Dinar
Onar
Tenar
Senar
Lunar
Kata yang berakhir dengan suku kata sar :
Besar
Dasar
Gusar
Selasar
Pasar
Pusar
Sasar
Kasar
Ashar
Kata yang berakhir dengan suku kata bung :
Rebung
Lumbung
Kembung
Tabung
Selubung
Kata yang berakhir dengan suku kata buh :
Kambuh
Imbuh
Sembuh
Subuh
Tabuh
Tubuh
Tumbuh
Kata yang berakhir dengan suku kata tang :
Batang
Datang
Gantang
Kentang
Lintang
Petang
Rentang
Kata yang berakhir dengan suku kata rang :
Arang
Barang
Berang
Carang
Garang
Genderang
Karang
Kerang
Kurang
Larang
Merang
Orang
Parang
Perang
Sarang
Semarang
Serang
Terang
Kata yang berakhir dengan suku kata nung :
Gunung
Renung
Tenung
Kata yang berakhir dengan suku kata dang :
Kendang
Kumandang
Padang
Pandang
Rendang
Sendang
Tendang
Kata yang berakhir dengan suku kata gung :
Agung
Bingung
Kata yang berakhir dengan suku kata nang :
Benang
Kenang
Kunang
Renang
Penang
Senang
Tenang
CONTOH PANTUN
Ke pasar membeli sayur
Duduk di bawah pohon kelapa
Berbicaralah dengan jujur
Niscaya akan dipercaya
Buah apel dari utara
Di hutan banyak cempedak
Ayahku senang tiada tara
Melihat kakek duduk berbedak
Ke Jakarta naik kereta api
Nanti malam pergi ke pasar
Jika ingin menjadi pandai
Kita harus rajin belajar
Janganlah bersembunyi di kolong
Di kolong meja ada hewan
Janganlah engkau menjadi sombong
Orang sombong sedikit kawan
Membuat acar di tengah jalan
Ada orang menuntun sapi
Belajar cuma asal-asalan
Bagai bunga kembang tak jadi
Oleh-oleh dari Sukabumi
Jangan sekedar sepatu sandal
Boleh kita krisis ekonomi
Asalkan jangan krisis moral
Siapa tak suka ikan teri
Mudah disimpan ke dalam kendil
Seketika musang berlari
Dikejar ayam membawa bedil
Jangan dipetik selagi kuncup
Biar tumbuh bersama duri
Menghormati orang tua selagi hidup
Lebih mulia daripada kenduri
Bunga itu jangan dipetik
Langit telah menjadi mendung
Engkaulah gadis tercantik
Kurindukan siang malam
Roda sepeda berputar-putar
Menuju ke arah kota Jakarta
Kalau engkau memang pintar
Hewan apa berkaki lima
Padi merunduk tanda berisi
Kita berilmu karena bersekolah
Janganlah terpaku di depan televisi
Ambil buku dan pelajarilah
Sukailah sayur terong
Terong muda lebih baik
Jika engkau suka berbohong
Engkau termasuk orang munafik
Anton membuat somai
Bu Nita heran seraya berdecak
Penonton bersorak ramai
Melihat kera mengayuh becak
Sebulan tidak berlalu lama
Dia dan aku disebut kami
Tak jadi soal beda agama
Persaudaraan tetap bersemi
Banyak penjual di kota sorong
Tak kutemukan ayam kate
Kakek nenek sudah ompong
Tapi makin suka makan sate
Berbelanja ke Bu Satunah
Buka pagi sampai malam
Janganlah suka membuat fitnah
Fitnah itu amatlah kejam
Makan tahu di tepi jalan
Sambil berlari amat kencang
Wahai para handai taulan
Ikatlah pinggang dengan kencang
Ayo ikut kursus bahasa jawa
Tapi tidak sediakan kopi
Banyak tikus tertawa-tawa
Melihat kucing memakai topi
Orang Afrika berkulit legam
Terantuk batu sebab berlari
Hanya karena telepon genggam
Orang tak malu jadi pencuri
Minum kopi dengan bubur
Matahari sudah tinggi
Kemanapun engkau akan kabur
Pasti akan tertangkap lagi
Buat apa menyetrika
Kalau bajunya masih basah
Buat apa mencari Ika
Kalau hati selalu resah
Ada anak membeli kapas
Yang lain membeli gula jawa
Hatimu putih seperti kapas
Semoga engkau selalu tertawa
Jika di sawah banyak belalang
Kepompong pun dimusnahkan
Jika Arjuna sudah datang
Si Bagong pun dilupakan
Ada kaca terpecah-pecah
Ada nenek minum jamu
Daripada kita marah-marah
Lebih baik menuntut ilmu
Naik sepeda menerjang pagar
Sungguh malu jatuh terjengkang
Zaman sekarang malas belajar
Kelak hidupnya terbelakang
Di bawah pohon ada akar
Hujan jati tak bertemu
Pintar-pintar rajin belajar
Jadi professor impianmu
Burung merpati menari-nari
Bergoyang-goyang di tengah sawah
Sedih rasanya hatiku ini
Mengingat kita akan berpisah
Bunga melati putih warnanya
Harum tetapi tidak berduri
Untuk apa hidup menderita
Mari berdendang menghibur hati
Ibukota Negara di Jakarta
Bandung ibukota Jawa Barat
Tak ada artinya kaya harta
Jika tak beruntung akhirat
Anak bayi belum bergigi
Tapi bisa makan ketupat
Konsumsilah makanan bergizi
Agar tubuh menjadi sehat
Ada tokek memanjat tali
Ada kenek dari Jawa
Sang kakek bermain tali
Sang nenek jadi tertawa
Jika kita makan ubi
Jangan lupa duduk beralas
Jika kita hutang budi
Jangan lupa untuk membalas
Jalan-jalan ke Surabaya
Lihat kadal makan serabi
Mari kawan kita berkarya
Jangan hanya sekedar hobi
Buah manggis buah semangka
Tutupilah dengan kelambu
Kalau ingin Indonesia jaya
Kita semua harus bersatu
Jika belajan membeli sayur
Jangan lupa membeli kelapa
Kita harus belajar jujur
Supaya kita dipercaya
Burung dara burung derkuku
Terbang jauh nun di sana
Betapa hatiku amat rindu
Kepada ayahanda disana
Bunga melati warnanya putih
Di hutan disukai monyet
Hidup ini janganlah bersedih
Mainkan musik kita berjoget
Kulihat kakek minum jamu
Kulihat anjing kejar mengejar
Jika kamu ingin banyak ilmu
Maka rajin-rajinlah kamu belajar
Kulihat ada seekor cicak
Memanjat di pohon kenari
Aku tertawa terbahak-bahak
Melihat nenek menari-nari
Semua manusia punya kaki
Lari dikejar mak lampir
Lihat pemandangan indah sekali
Kita jadi pintar membuat syair
Pergi ke warung membeli nasi
Ke Surabaya naik sepeda
Jadi anak harus berbhakti
Agar disayang orang tua
Paman datang membawa jambu
Berteduh di bawah pohon mangga
Kita harus mencari ilmu
Untuk bekal di hari tua
Gosoklah gigi dengan sikat
Sikat terus sampai berbusa
Jika ingin menjadi sehat
Kita harus berolahraga
Pergi ke pasar membeli sepatu
Beli jeruk naik sepeda
Kita harus selalu bersatu
Menjaga nusa juga bangsa
Di India ada Himalaya
Banyak kawat jadi paku
Kalau engkau benar-benar cinta
Coba tulislah surat untukku
Padi ditanam di tengah sawah
Di sana tidak ada kemumu
Janganlah adik menyimpan susah
Aku selalu mencintai
Semua manusia punya jari
Bukan hanya berjumlah empat
Berolahraga di pagi hari
Membuat badan menjadi sehat
Pagar depan jangan diinjak
Karena memang baru dicuci
Belajar itu memang enak
Apalagi di pagi hari
Ayah ke pasar beli sepatu
Kemudian pergi ke taman
Senang-senanglah kau membantu
Supaya punya banyak teman
Ada mobil mengangkut pintu
Ada delman mengangkat jendela
Senanglah kamu untuk membantu
Agar kamu mendapat fahala
Ada anak makan durian
Sayang tidak ada pisaunya
Aku ingin bepergian
Sayang tidak ada uangnya
Malam minggu pergi ke pasar minggu
Beli kurma naik onta
Jangan lupa shalat lima waktu
Agar kita masuk surga
Burung merpati burung dara
Hinggap di dahan pohon jati
Kalau adik mencintai saya
Mari kita berikrar janji
Buat apa aku punya kuku
Kalau tak tumbuh di jari
Buat apa membeli buku
Kalau tidak dipelajari
Pergi nelayan mencari ikan
Jangan lupa membawa tali
Bekerja memang sangat melelahkan
Jangan sampai lupa diri
Di hutan banyak burung nuri
Burung nuri banyak yang suka
Jangan engkau suka mencuri
Mencuri membuat celaka
Ada gedung sedang terbakar
Isi pen disebut tinta
Semangatlah kalian belajar
Agar tercapai cita-cita
Perempuan menyukai bunga
Sekuntum bunga di atas bangku
Senang-senanglah kamu membaca
Karna buku gudang ilmu
Abdullah membeli semangka
Buah itu akan dimakan
Jangan suka menuduh sesama
Kalau tak bisa membuktikan
Di hutan banyak hewan badak
Di atas rumah banyak tikusnya
Aku tertawa terbahak-bahak
Melihat nenek pakai celana
Air jernih ikannya jinak
Negeri makmur rakyatnya tenteram
Tiada gading yang tak retak
Air beriak tanda tak dalam
Venus itu bintangnya fajar
Jupiter itu planet kelima
Sukseskan program wajib belajar
Sembilan tahun tidaklah lama
Bepergian dengan sepeda
Di jalan menemukan duri
Belajarlah selagi muda
Pasti beruntung di kemudian hari
Ada banyak burung nuri
Seekor hinggap di atas pagar
Belajarlah setiap hari
Hasilnya cepat tanggap dan pintar
Anak bangau turun sepuluh
Mati dua tinggal delapan
Tuntutlah ilmu sungguh-sungguh
Kelak kau tak ketinggalan
Ke Jakarta beli manggis
Di Bali banyak turisnya
Janganlah engkau suka menanggis
Mari belajar bersama-sama
Buat apa makan mentimun
Lebih baik makan nasi
Buat apa duduk melamun
Lebih baik kita mengaji
Jalan-jalan ke Jakarta
Jangan lupa membeli manggis
Rajin-rajinlah engkau bekerja
Jangan Cuma bisa menanggis
Malu bertanya sesat di jalan
Adat tua menanggung ragam
Susah dan senang kita rasakan
Semoga hidup menjadi tentram
Ada buku di bangkumu
Bukunya berwarna merah
Dengarkan penjelasan gurumu
Tidak mengerti bertanyalah
Di hutan banyak burung elang
Terbang melintasi lapangan
Janganlah engkau berlaku curang
Curang merusak persahabatan
Anak ini bernama Cica
Ia senang membaca di kelas
Budayakan gemar membaca
Bacaan sumber ilmu yang luas
Burung bangau di batu cadas
Kupu-kupu sudah cukup umur
Kalau engkau memang cerdas
Dulu mana ayam dan telur
Sepatu sandal hilang sebelah
Sudah dicari tidak ketemu
Tekun belajar selagi muda
Sebanyak mungkin tuntutlah ilmu
Hewan ini tidak berkaki
Hewan itu memang berbisa
Janganlah engkau suka memaki
Karna itu perbuatan dosa
Rumput ilalang bergoyang-goyang
Tertiup angin kesana
Mari kita tunaikan sembahyang
Bekal kita di akahirat nanti
Jalan kaki mendaki gunung
Anak ayam hilang induknya
Jangan biasakan termenung
Termenung tiada gunanya
Amat jauh di ujung kali
Tokek merayap di atas palu
Melihat nenek bermain tali
Kakek tertawa tersipu malu
Jangan suka makan mentimun
Mentimun itu banyak getahnya
Jangan suka duduk melamun
Melamun itu banyak susahnya
Ke Surabaya beli keledai
Keledai lari harus dikejar
Kita harus jadi anak pandai
Syaratnya harus giat belajar
Pukul lima pergi ke Jakarta
Ada orang berbaju coklat
Patuhilah nasihat orang tua
Kan terhindar dari kualat
Pukul enam pergi ke Jakarta
Melihat orang berbaju merah
Saya senang belajar bahasa
Daripada saya marah-marah
Buah manggis rasanya manis
Buah papaya di kebun saya
Apa kabar adik yang manis?
Apa sudah ada yang punya?
Beli salak di dekat pasar
Salak itu murah harganya
Jadi anak rajin belajar
Kelak engkau banyak ilmunya
Haling layu keringlah sudah
Tak lama lagi akan mati
Rajinlah-rajinlah beribadah
Beribadah tentramkan hati
Buat apa punya sagu
Kalau tidak bisa dimakan
Buat apa punya ilmu
Kalau tidak diamalkan
Di buku IPA ada gerak semu
Di buku sejarah ada hal arca
Jika kita ingin berilmu
Senang dan giatlah membaca
Ke Palu beli buah-buahan
Ke Jakarta mencari sedekah
Semua ingin disayang Tuhan
Jadilah anak yang salehah
Karena kuda ada kursinya
Penumpang banyak sekali
Saya senang belajar bersama
Daripada melamun diri
Buah asam masam rasanya
Diberi gula menjadi manis
Walau dia jelek wajahnya
Tetapi mahir bahasa Inggris
Jalan-jalan ke Negara Kenya
Bawa oleh-oleh dari pasar
Sopir bajaj gendut perutnya
Tapi sayang pantatnya besar
Planet Mars berwarna merah
Sungguh indah walau di luar
Daripada kita marah-marah
Lebih baik kita belajar
DAFTAR PUSTAKA
Al-Kamila. 2009. Kumpulan Pantun. Abu_Dillah.tripod.com
Aribawo. 2005. Pantun dan Syair dalam Kesusastraan Melayu Klasik. Multiply Blog Spot
Ensiklopedia Bebas. 21 Agustus 2009. Pantun. Wikipedia Bahasa Indonesia
diambil dari http://http://diarywiens.blogspot.com
12.23
Posted In
pantun
Edit This
................................................................. PANTUN ...................................................................
Pantun merupakan salah satu jenis
puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Pantun berasal dari kata
patuntun dalam
bahasa Minangkabau yang berarti "petuntun". Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai
parikan, dalam
bahasa Sunda dikenal sebagai
paparikan, dan dalam bahasa Batak dikenal sebagai
umpasa
(baca: uppasa). Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat
baris bila dituliskan), setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, ber
sajak
akhir dengan pola a-b-a-b dan a-a-a-a (tidak boleh a-a-b-b, atau
a-b-b-a). Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang
dijumpai juga pantun yang tertulis.
Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian:
sampiran dan
isi.
Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam
(mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak
punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk
mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang
merupakan tujuan dari pantun tersebut.
Karmina dan
talibun
merupakan bentuk kembangan pantun, dalam artian memiliki bagian
sampiran dan isi. Karmina merupakan pantun "versi pendek" (hanya dua
baris), sedangkan talibun adalah "versi panjang" (enam baris atau
lebih).
Peran pantun
Sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi
kata
dan kemampuan menjaga alur berfikir. Pantun melatih seseorang berfikir
tentang makna kata sebelum berujar. Ia juga melatih orang berfikir
asosiatif, bahwa suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata yang lain.
Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat, bahkan
hingga sekarang. Di kalangan pemuda sekarang, kemampuan berpantun
biasanya dihargai. Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berfikir
dan bermain-main dengan kata.
Namun demikian, secara umum peran sosial pantun adalah sebagai alat penguat penyampaian pesan.
Struktur pantun
Menurut Sutan Takdir Alisjahbana fungsi sampiran terutama menyiapkan
rima dan irama untuk mempermudah pendengar memahami isi pantun. Ini
dapat dipahami karena pantun merupakan sastra lisan.
Meskipun pada umumnya sampiran tak berhubungan dengan isi
kadang-kadang bentuk sampiran membayangkan isi. Sebagai contoh dalam
pantun di bawah ini:
- Air dalam bertambah dalam
- Hujan di hulu belum lagi teduh
- Hati dendam bertambah dendam
- Dendam dahulu belum lagi sembuh
Beberapa sarjana Eropa berusaha mencari aturan dalam pantun maupun
puisi lama lainnya. Misalnya satu larik pantun biasanya terdiri atas 4-6
kata dan 8-12 suku kata. Namun aturan ini tak selalu berlaku.
Jenis-jenis Pantun
- Menanam kelapa di pulau Bukum
- Tinggi sedepa sudah berbuah
- Adat bermula dengan hukum
- Hukum bersandar di Kitabullah
- Ikan berenang didalam lubuk
- Ikan belida dadanya panjang
- Adat pinang pulang ke tampuk
- Adat sirih pulang ke gagang
- Lebat daun bunga tanjung
- Berbau harum bunga cempaka
- Adat dijaga pusaka dijunjung
- Baru terpelihara adat pusaka
- Bukan lebah sembarang lebah
- Lebah bersarang dibuku buluh
- Bukan sembah sembarang sembah
- Sembah bersarang jari sepuluh
- Pohon nangka berbuah lebat
- Bilalah masak harum juga
- Berumpun pusaka berupa adat
- Daerah berluhak alam beraja
- Banyak bulan perkara bulan
- Tidak semulia bulan puasa
- Banyak tuhan perkara tuhan
- Tidak semulia Tuhan Yang Esa
- Daun terap di atas dulang
- Anak udang mati dituba
- Dalam kitab ada terlarang
- Yang haram jangan dicoba
- Bunga kenanga di atas kubur
- Pucuk sari pandan Jawa
- Apa guna sombong dan takabur
- Rusak hati badan binasa
- Asam kandis asam gelugur
- Ketiga asam si riang-riang
- Menangis mayat dipintu kubur
- Teringat badan tidak sembahyang
- Bunga cina di atas batu
- Daunnya lepas kedalam ruang
- Adat budaya tidak berlaku
- Sebabnya emas budi terbuang
- Diantara padi dengan selasih
- Yang mana satu tuan luruhkan
- Diantara budi dengan kasih
- Yang mana satu tuan turutkan
- Apa guna berkain batik
- Kalau tidak dengan sujinya
- Apa guna beristeri cantik
- Kalau tidak dengan budinya
- Sarat perahu muat pinang
- Singgah berlabuh di Kuala Daik
- Jahat berlaku lagi dikenang
- Inikan pula budi yang baik
- Anak angsa mati lemas
- Mati lemas di air masin
- Hilang bahasa karena emas
- Hilang budi karena miskin
- Biarlah orang bertanam buluh
- Mari kita bertanam padi
- Biarlah orang bertanam musuh
- Mari kita menanam budi
- Ayam jantan si ayam jalak
- Jaguh siantan nama diberi
- Rezeki tidak saya tolak
- Musuh tidak saya cari
- Jikalau kita bertanam padi
- Senanglah makan adik-beradik
- Jikalau kita bertanam budi
- Orang yang jahat menjadi baik
- Kalau keladi sudah ditanam
- Jangan lagi meminta balas
- Kalau budi sudah ditanam
- Jangan lagi meminta balas
Pantun Jenaka adalah pantun yang bertujuan untuk menghibur orang yang
mendengar, terkadang dijadikan sebagai media untuk saling menyindir
dalam suasana yang penuh keakraban, sehingga tidak menimbulkan rasa
tersinggung, dan dengan pantun jenaka diharapkan suasana akan menjadi
semakin riang. Contoh:
- Di mana kuang hendak bertelur
- Di atas lata dirongga batu
- Di mana tuan hendak tidur
- Di atas dada dirongga susu
- Elok berjalan kota tua
- Kiri kanan berbatang sepat
- Elok berbini orang tua
- Perut kenyang ajaran dapat
- Sakit kaki ditikam jeruju
- Jeruju ada didalam paya
- Sakit hati memandang susu
- Susu ada dalam kebaya
- Naik kebukit membeli lada
- Lada sebiji dibelah tujuh
- Apanya sakit berbini janda
- Anak tiri boleh disuruh
- Orang Sasak pergi ke Bali
- Membawa pelita semuanya
- Berbisik pekak dengan tuli
- Tertawa si buta melihatnya
- Jalan-jalan ke rawa-rawa
- Jika capai duduk di pohon palm
- Geli hati menahan tawa
- Melihat katak memakai helm
- Limau purut di tepi rawa,
- buah dilanting belum masak
- Sakit perut sebab tertawa,
- melihat kucing duduk berbedak
- jangan suka makan mentimun
- karna banyak getahnya
- hai kawan jangan melamun
- melamun itu tak ada gunanya
Pantun kepahlawanan adalah pantun yang isinya berhubungan dengan semangat kepahlawanan
- Adakah perisai bertali rambut
- Rambut dipintal akan cemara
- Adakah misai tahu takut
- Kamipun muda lagi perkasa
- Hang Jebat Hang Kesturi
- Budak-budak raja Melaka
- Jika hendak jangan dicuri
- Mari kita bertentang mata
- Kalau orang menjaring ungka
- Rebung seiris akan pengukusnya
- Kalau arang tercorong kemuka
- Ujung keris akan penghapusnya
- Redup bintang haripun subuh
- Subuh tiba bintang tak nampak
- Hidup pantang mencari musuh
- Musuh tiba pantang ditolak
- Esa elang kedua belalang
- Takkan kayu berbatang jerami
- Esa hilang dua terbilang
- Takkan Melayu hilang dibumi
- Ayam sabung jangan dipaut
- Jika ditambat kalah laganya
- Asam digunung ikan dilaut
- Dalam belanga bertemu juga
- Berburu kepadang datar
- Dapatkan rusa belang kaki
- Berguru kepalang ajar
- Bagaikan bunga kembang tak jadi
- Anak Madras menggetah punai
- Punai terbang mengirap bulu
- Berapa deras arus sungai
- Ditolak pasang balik kehulu
- Kayu tempinis dari kuala
- Dibawa orang pergi Melaka
- Berapa manis bernama nira
- Simpan lama menjadi cuka
- Disangka nenas di tengah padang
- Rupanya urat jawi-jawi
- Disangka panas hingga petang
- Kiranya hujan tengah hari
- Kayu cendana di atas batu
- Sudah diikat dibawa pulang
- Adat dunia memang begitu
- Benda yang buruk memang terbuang
- Kemuning di tengah balai
- Bertumbuh terus semakin tinggi
- Berunding dengan orang tak pandai
- Bagaikan alu pencungkil duri
- Parang ditetak kebatang sena
- Belah buluh taruhlah temu
- Barang dikerja takkan sempurna
- Bila tak penuh menaruh ilmu
- Padang temu padang baiduri
- Tempat raja membangun kota
- Bijak bertemu dengan jauhari
- Bagaikan cincin dengan permata
- Ngun Syah Betara Sakti
- Panahnya bernama Nila Gandi
- Bilanya emas banyak dipeti
- Sembarang kerja boleh menjadi
- Jalan-jalan ke kota Blitar
- jangan lupa beli sukun
- Jika kamu ingin pintar
- belajarlah dengan tekun
- Coba-coba menanam mumbang
- Moga-moga tumbuh kelapa
- Coba-coba bertanam sayang
- Moga-moga menjadi cinta
- Limau purut lebat dipangkal
- Sayang selasih condong uratnya
- Angin ribut dapat ditangkal
- Hati yang kasih apa obatnya
- Ikan belanak hilir berenang
- Burung dara membuat sarang
- Makan tak enak tidur tak tenang
- Hanya teringat dinda seorang
- Anak kera di atas bukit
- Dipanah oleh Indera Sakti
- Dipandang muka senyum sedikit
- Karena sama menaruh hati
- Ikan sepat dimasak berlada
- Kutunggu di gulai anak seberang
- Jika tak dapat di masa muda
- Kutunggu sampai beranak seorang
- Kalau tuan pergi ke Tanjung
- Kirim saya sehelai baju
- Kalau tuan menjadi burung
- Sahaya menjadi ranting kayu.
- Kalau tuan pergi ke Tanjung
- Belikan sahaya pisau lipat
- Kalau tuan menjadi burung
- Sahaya menjadi benang pengikat
- Kalau tuan mencari buah
- Sahaya pun mencari pandan
- Jikalau tuan menjadi nyawa
- Sahaya pun menjadi badan.
- Berakit-rakit kehulu
- Berenang-renang ke tepian
- Bersakit-sakit dahulu
- Bersenang-senang kemudian
- Ke hulu memotong pagar
- Jangan terpotong batang durian
- Cari guru tempat belajar
- Jangan jadi sesal kemudian
- Kerat kerat kayu diladang
- Hendak dibuat hulu cangkul
- Berapa berat mata memandang
- Barat lagi bahu memikul
- Harapkan untung menggamit
- Kain dibadan didedahkan
- Harapkan guruh dilangit
- Air tempayan dicurahkan
- Pohon pepaya didalam semak
- Pohon manggis sebasar lengan
- Kawan tertawa memang banyak
- Kawan menangis diharap jangan
- Pucuk pauh delima batu
- Anak sembilang ditapak tangan
- Biar jauh dinegeri satu
- Hilang dimata dihati jangan
- Bagaimana tidak dikenang
- Pucuknya pauh selasih Jambi
- Bagaimana tidak terkenang
- Dagang yang jauh kekasih hati
- Duhai selasih janganlah tinggi
- Kalaupun tinggi berdaun jangan
- Duhai kekasih janganlah pergi
- Kalaupun pergi bertahun jangan
- Batang selasih mainan budak
- Berdaun sehelai dimakan kuda
- Bercerai kasih bertalak tidak
- Seribu tahun kembali juga
- Bunga Cina bunga karangan
- Tanamlah rapat tepi perigi
- Adik dimana abang gerangan
- Bilalah dapat bertemu lagi
- Kalau ada sumur di ladang
- Bolehlah kita menumpang mandi
- Kalau ada umurku panjang
- Bolehlah kita bertemu lagi
- Kalau tuan bawa keladi
- Bawakan juga si pucuk rebung
- Kalau tuan bijak bestari
- Binatang apa tanduk dihidung ?
- Beras ladang sulung tahun
- Malam malam memasak nasi
- Dalam batang ada daun
- Dalam daun ada isi
- Terendak bentan lalu dibeli
- Untuk pakaian saya turun kesawah
- Kalaulah tuan bijak bestari
- Apa binatang kepala dibawah ?
- Kalau tuan muda teruna
- Pakai seluar dengan gayanya
- Kalau tuan bijak laksana
- Biji diluar apa buahnya
- Tugal padi jangan bertangguh
- Kunyit kebun siapa galinya
- Kalau tuan cerdik sungguh
- Langit tergantung mana talinya ?
contoh lain pantun :
adakalanya dinyanyikan dengan lagu " Rasa sayange "
"Rasa sayange
rasa sayang sayange
kalau lihat ambon dari jauh
rasa sayang-sayange"
Orang kaya banyak berharta
Ke Sumatra setiap tahun
Bismillah saya membuka kata
Berseni sastra membuat pantun
*
Daun ilalang pucuknya mati
Buah pisang berwarna hitam
Pantun dikarang penghibur hati
Turut kembangkan budaya Etam
*
Daun ilalang taruh di topi
Daun Kurma ditambah lagi
Pantun kukarang di malam sepi
Kala purnama telah meninggi
*
Ambil paku di Kota Raja
Di Kota Raja mendapat intan
Wahai saudaraku di mana saja
Pantun kukarang untuk kalian
BUDAYA ETAM
Jalan-jalan sekitar taman
Jangan patahkan mawar berduri
Wahai kawan sesama seniman
Mari lestarikan budaya sendiri
Anak badak mencari makan
Anak ketam di dalam tanah
Kalau tidak dilestarikan
Budaya Etam pastilah punah
Minum susu memakai rantang
Tumpah di bantal di atas tilam
Anak cucu di masa datang
Tidak kenal budaya Etam
kalau tilam sudahlah basah
Jemur sekarang di atas atap
Budaya etam sangatlah indah
Sungguh sayang, janganlah lenyap
terbang rendah burung peragam
Dari huma terbang ke hutan
Budaya daerah beraneka ragam
Mari bersama kita lestarikan
main gasing janganlah rebah
Memakai tali pelepah pisang
Budaya asing sudah merambah
Budaya asli janganlah hilang
Mari menyanyi sambil menari
Suara dua tinggi dan rendah
Budaya negeri tetap lestari
Negeri kita semakin indah
s
Air terjun bertangga dua
Tempat gadis mencuci kain
Syair, pantun, serta mamanda
Juga masih banyak yang lain
s
Buah kelat waktu dirasa
Meludah lagi kalau tak nyaman
Wahai pejabat serta pengusaha
Bantulah kami para seniman
s
Pohon kurma sebesar paha
Pohon Kemiri tidak berduri
Mari bersama kita berusaha
Mmembangun seni negeri sendiri
s
Anak cecak mencari makan
Bersembunyi di bawah papan
Orang bijak pasti pikirkan
Hari ini dan masa depan
s
Ada ikan namanya tenggiri
Ikan dibawa ke Muara Kaman
Melestarikan budaya negeri
Bukanlah hanya tugas seniman