Sholawat Cinta ust. Uje
17.46 Posted In lirik lagu Edit This 0 Comments »Shollu Ala Muhammad
Shollu Alaihi Wasallim
Shollu Ala Muhammad
Shollu Alaihi Wasallim
Yaa Nabi salaam alaika
Yaa Rasul salaam alaika
Yaa Nabi salaam alaika
Sholawatullah alaika
Berdiri bersama memuji yang mulia
Menyebut namanya tanda rasa cinta
Salam rinduku kasih
Salam rinduku Nabi
Salam rinduku kasih
Salam rinduku Nabi
Yaa Nabi salaam alaika
Yaa Rasul salaam alaika
Yaa Nabi salaam alaika
Sholawatullah alaika
Indah wajahnya bagaikan purnama
Siapa melihatnya pasti jatuh cinta
Salam rinduku kasih
Salam rinduku Nabi
Salam rinduku kasih
Salam rinduku Nabi
Muhammad itulah namanya
Mulia dengan akhlaknya
Muhammad dia nabi kita
Bershalawatlah kepadanya
Yaa Nabi salaam alaika
Yaa Rasul salaam alaika
Yaa Nabi salaam alaika
Sholawatullah alaika
Indah wajahnya bagaikan purnama
Siapa melihatnya pasti jatuh cinta
Salam rinduku kasih
Salam rinduku Nabi
Salam rinduku kasih
Salam rinduku Nabi
Yaa Nabi salaam alaika
Yaa Rasul salaam alaika
Yaa Nabi salaam alaika
Sholawatullah alaika
Sholawatullah alaika
Sholawatullah alaika
Selamat menjalankan Puasa
07.53 Posted In informasi , motivasi Edit This 0 Comments »
Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Romadhon Ya ...
semoga bisa puasa selama sebulan penuh ... jangan lobang ....
Semangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat puasanya ya ...
semoga bisa puasa selama sebulan penuh ... jangan lobang ....
Semangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat puasanya ya ...
Siapa Ki Hajar Dewantara itu ?
22.59 Posted In informasi , Pendidikan Edit This 0 Comments »
Mungkin sebagian dari kita ingin tahu siapa gerangan beliau, apa peranan beliau kok disebut-sebut sebagai bapak pendidikan di Indonesia. simak ulasan berikut ini ya apabila ada yang kurang mohon koreksinya.
Ki Hajar Dewantara
memiliki nama asli R.M. Suwardi Suryaningrat. Beliau berasal dan
keluarga keturunan Keraton Yogyakarta. Beliau mengganti namanya tanpa
gelar bangsawan agar dapat lebih dekat dengan rakyat. Setelah
menyelesaikan pendidikan dasarnya, beliau belajar di STOVIA, tetapi
tidak menamatkannya karena sakit. BeIiau kemudian bekerja sebagai
wartawan di beberapa surat kabar, antara lain De Express, Utusan
Hindia,dan Kaum Muda. Sebagai penulis yang handal, tulisannya mampu
membangkitkan semangat antikolonialisme rakyat Indonesia.
Ki Hajar Dewantara juga aktif di bidang
politik dengan bergabung ke dalam Budi Utomo, lalu mendirikan Indische
Partij sebagai partai politik pertama yang beraliran nasionalisme
Indonesia pada tanggai 25 Desember 1912 bersama kedua rekannya, Douwes
Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo .
Ki Hajar Dewantara juga ikut
membidani terbentuknya Komite Bumiputra di tahun 1913 sebagai bentuk
protes terhadap rencana Belanda memeringati kemerdekaannyaa dan
Perancis. Beliau kemudian membuat sebuah tulisan pedas di harian De
Express yang berjudui “Als lk een Nederlander” (Seandainya Aku Seorang
Belanda). Melalui tulisan ini, beliau menyindir Belanda yang hendak
merayakan 100 tahun kemerdekaannyaa dan Perancis di negeri jajahan
dengan menggunakan uang rakyat indonesia. Berikut ini kutipannya.
“Sekiranya aku seorang Belanda, aku
tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah
kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu,
bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh Si
inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. ide untuk
menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang
kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin
itu ! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung
perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander
diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan
sedikit pun baginya”
Akibatnya, Belanda pun langsung
menjatuhkan hukuman pengasingan. Bersama Douwes Dekker dan Cipto
Mangoenkoesomo, beliau dibuang ke Belanda. Di Belanda, Ki Hajar
Dewantara memanfaatkan kesempatan mendalami masalah pendidikan dan
pengajaran.
Setelah kembali ke tanah air, Ki Hajar Dewantara memusatkan
perjuangan melalui pendidikan dengan mendirikan perguruan Taman Siswa
pada tanggal 3 JuIi 1922. Perguruan ini merupakan wadah untuk menanamkan
rasa kebangsaaan kepada anak didik. Ajaran Ki Hajar Dewantara yang
terkenal adalah ing ngarsa sung tulodo, ing madya mangun karsa, dan tut
wuri handayani. Artinya adalah di depan memberi teladan, di tengah
memberi semangat, dan di belakang memberi dorongan. Berkat jasanya yang
besar di bidang pendidikan maka pemerintah menetapkan beliau sebagai
Bapak Pendidikan dan tanggal lahirnya, 2 Mei sebagai Hari Pendidikan
Nasional. Pada tahun 1957, beliau mendapat gelar Doctor Honoris Causa
dan Universitas Gadjah Mada. Dua tahun setelah mendapat gelar tersebut,
beliau meninggal dunia pada tanggat 26 April 1959 di Yogyakarta dan
dimakamkan di Taman Wijaya Brata.
- Tempat/TgI. Lahir : Yogyakarta, 2 Mei 1889
- Tempat/TgI. Wafat : Yogyakarta, 26 April 1959
- SK Presiden : Keppres No. 305 Tahun 1959, Tgl. 28 November 1959
- Gelar : Pahlawan Nasional
Selain ajarannya di bidang pendidikan,
Ki Hadjar juga meninggalkan pesan yang sangat baik diteladani. Pesan
tersebut kini dapat dilihat pada Museum Sumpah Pemuda di JI. Kramat
Raya, Jakarta.
“Aku hanya orang biasa yang Bekerja untuk bangsa
lndonesia dengan cara Indonesia. Namun, yang penting untuk kalian
yakini, sesaat pun aku tak pernah mengkhianati tanah air dan bangsaku,
lahir maupun batin aku tak pernah mengkorup kekayaan negara"
Semoga momentum kebangkitan bangsa kita dapat terlaksana dengan hadirnya Ki Hajar - Ki Hajar selanjutnya. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2015 .... Bravo Pendidikan Indonesia ....
Senangnya tahu Apa Hari Kartini itu ?
11.37 Posted In informasi , Pendidikan Edit This 0 Comments »
SUDAH berlangsung puluhan tahun.
Tiap merayakan Hari Kartini, banyak wanita merayakannya dengan cara
berpakaian kebaya, bersanggul dan kadang-0ladang juga ada acara
masak-memasak. Bahkan, yang pria ikut-ikutan memakai pakaian jas atau
pakaian adat Jawa. Benarkah harus demikian?
Siapakah RA Kartini?
Raden Adjeng Kartini (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini[1] adalah seorang tokoh suku Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kartini).
Raden Adjeng Kartini (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini[1] adalah seorang tokoh suku Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kartini).
Apa pemikiran-pemikiran RA Kartini?
Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle “Stella” Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kartini).
Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle “Stella” Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kartini).
Pertanyaan-pertanyaan sekitar peringatan Hari Kartini
Memperingati Hari Kartini berarti:
1.Berarti memperingati hari lahir RA Kartini, 21 April (1879).
2.Berarti memperingati kebaya RA Kartini
3.Berarti memperingati RA Kartini sebagai pelopor pejuang emansipasi wanita
ad.1.Berarti memperingati hari lahir RA Kartini, 21 April
Kalau hanya memperingati haru ulang tahun RA
Kartini tentu kurang tepat. Sebab hari lahir RA kartini tidak punya
makna apa-apa, baik makna sejarah, makna politik ataupun makna apapun
juga. Kelahiran RA Kartini merupakan wilayah Logika Pribadi.
ad.2.Berarti memperingati kebaya RA Kartini
Kalau hanya memperingati kebaya yang dipakai RA
Kartini juga tak punya makna apa-apa, karena tidak ada makna sejarah,
makna politik ataupun makna apapun juga. Lagipula, bukan orang Jawa saja
yang memakai kebaya. Seku-suku lain juga memakai kebaya. Kalau
suku-suku lain harus memperingati hari Kartini dengan memakai kebaya
Jawa, tentu tidak relevan. Sebaliknya, kalau suku-suku non-Jawa harus
memakai kebaya daerah masing-masing, juga tidak relevan. Kalau hanya
wanita Jawa saja yang memperingati Hari Kartini dan berkebaya Jawa,
tentu tidak nasionalis. Kebaya merupakan wilayah Logika Budaya.
ad.3.Berarti memperingati RA Kartini sebagai pelopor pejuang emansipasi wanita
Perjuangan RA Kartini adalah perjuangan
emasipasi wanita di bidang pendidikan dan dalam hal hak untuk menentukan
jodohnya sendiri, tidak ingin dipingit. Perjuangan ini tidak hanya
untuk kepentingan RA Kartini sendiri, melainkan bagi kepentingan seluruh
wanita Indonesia. Wilayah logikanya adalah Logika Emansipasi.
Apa bedanya dengan peringatan Hari Ibu di Indonesia 22 Desember?
Sejarah Hari Ibu diawali dari bertemunya para
pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada
22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung Dalem Jayadipuran> yang
sekarang berfungsi sebagai kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai
Tradisional dan beralamatkan di Jl. Brigjen Katamso.[6] Kongres dihadiri
sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera.
Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres
Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).
Organisasi perempuan sendiri sudah ada sejak 1912,
diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti Martha
Christina Tiahahu, Cut Nyak Dhien, Tjoet Nyak Meutia, R.A. Kartini,[7]
Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, dan lain-lain.(
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Ibu#Hari_Ibu_di_Indonesia).
Kesimpulan
1.Tanggal lahir RA Kartini:
Kalau mau jujur, antara tanggal lahir RA Kartini
dengan perjuangan emansipasi yang diperjuangkan RA Kartini, tentu tidak
ada relevansinya sama sekali. Seharusnya, tanggal tertentu yang ada
nilai sejarahnya, seperti halnya Hari Ibu yang ditetapkan sesuai
diselenggarakannya Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita
dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember
1928 di Yogyakarta. Artinya, 21 April adalah hari kelahiran RA Kartini
dan bukan peristiwa sejarah.
Catatan:
Penetapan tanggal 21 April sebagai Hari Kartini
itulah yang tidak dapat diterima secarasosologis, filosofis dan yuridis.
Materi muatan Keppres No. 108 tahun 1964, terutamamenyangkut
penetapannya tanggal 21 April sebagai Hari Kartini, adalah sangat diskriminatif.Kalau
tidak ada diskriminatif seharusnya tidak ada Hari Kartini. Untuk
mempersamakannya,seharusnya ada Hari Soekarno, Hari Hatta, Hari Dewi
Sartika, Hari Tjut Nya’ Dien, Hari RohanaKudus, dan lain sebagainya.
—Sumber: http://www.slideshare.net/advokat-muadz/hari-kartini-kebijakan-nasional-diskriminatif-12626057.
2.Kebaya RA Kartini:
Kalau mau berlogika secara jernih, antara kebaya
yang digunakan RA Kartini dengan perjuangan emansipasi oleh RA Kartini,
tidak ada hubungannya yang signifikan. Kebetulan RA Kartini memakai
pakaian kebaya dan bersanggul. Kalau berpakaian lain dan tidak
bersanggul, apakah akan dicontoh juga? Dengan demikian, memperingati
Hari Kartini tidak harus, tidak wajib dan tidak selalu memakai kebaya.
Boleh memakai pakaian sehari-hari. Yang penting adalah esensi daripada
Hari Kartini itu sendiri, yaitu perjuangan emansipasi wanita. Artinya,
memakai kebaya bukanlah pertistiwa sejarah.
Catatan:
Kebetulan RA Kartini orang Jawa yang berkebaya dan bersanggul. Bagaimana jika Kartini adalah orang pribumi Papua yang berpakaian tradisional sederhana? Seharusnya, Hari Kartini diperingati dengan cara para wanita memakai pakaian profesi yang biasanya hanya dilakukan kaum pria. Misalnya, berpakaian pilot pesawat, petugas pemadam kebakaran, pembalap mobil F1, gubernur, polwan/wanpol, astronout dan lain-lain.
Kebetulan RA Kartini orang Jawa yang berkebaya dan bersanggul. Bagaimana jika Kartini adalah orang pribumi Papua yang berpakaian tradisional sederhana? Seharusnya, Hari Kartini diperingati dengan cara para wanita memakai pakaian profesi yang biasanya hanya dilakukan kaum pria. Misalnya, berpakaian pilot pesawat, petugas pemadam kebakaran, pembalap mobil F1, gubernur, polwan/wanpol, astronout dan lain-lain.
3.Perjuangan RA Kartini:
Yang harus diperingati dari RA Kartini adalah
perjuangan emansipasi wanita, antara lain di bidang pendidikan.
Pejuangan HAM wanita agar sejajar dengan HAM pria. Bentuknya bisa berupa
ceramah-ceramah tentang perjuangan emansipasi wanita yang dilakukan
oleh RA Kartini. Sebab, banyak yang memperingati Hari Kartini dengan
berkebaya, tetapi tidak faham tentang hakekat atau esensi daripada Hari
Kartini itu sendiri. Artinya, perjuangan emansipasi RA artini adalah
peristiwa sejarah.
Catatan:
Harus dicari, sejak kawan perjuangan emansipasi
yang diperjuangkan RA Kartini? Misalnya, harus dicari tanggal pembuatan
surat pertamanya.
Kapan seharusnya Hari Kartini diperingati?
Memperingati Hari Kartini sesuai dengan tanggal
lahir RA Kartini tidaklah penting dan tidak relevan.. Terlalu pribadi.
Yang seharusnya adalah momen sejarahnya, yaitu saat RA Kartini menulis
surat pertamanya. Surat -surat RA Kartini yang legendaries dan banyak
diterbitkan dalam bentuk buku adalah Habis Gelap Terbitlah Terang (Door
Duisternis Tot Licht). Surat-surat itu pertama kali di bukukan oleh J.H.
Abendanon, yang pada saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan,
Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Tepatnya, saat surat-surat RA
Kartini dibukukan. Saat itulah ada nilai sejarahnya. Masalahnya adalah,
kapan surat pertama RA Kartini ditulis? Surat pertama tersebut
merupakan peristiwa sejarah.
Kesimpulan khusus:
Merayakan hari Kartini dengan memakai kebaya
merupakan tradisi yang tidak ada unsur peristiwa sejarahnya. Artinya,
memakai kebaya tidak ada relevansinya dengan perjuangan RA Kartini.




























































